Gelombang optimisme melanda bursa nasional saat saham-saham sektor minyak dan gas (migas) mencetak rebound signifikan pada perdagangan Rabu. Pelaku pasar menilai risiko geopolitik sebagai peluang bagi perusahaan energi untuk mencetak kinerja yang lebih baik. Menurut Cetro Trading Insight, momentum ini mencerminkan perubahan sentimen investor terhadap saham migas di tengah dinamika pasokan energi global.
Sejumlah emiten migas memimpin kenaikan, dengan ENRG melesat 11,27% atau 240 poin menjadi Rp2.370 saat perdagangan berlangsung pada pukul 09.47 WIB dan nilai transaksi mencapai Rp678,56 miliar. Di bawahnya, APEX naik 4,03% ke Rp258 dengan volume transaksi Rp38,83 miliar. MEDC menguat 2,89% ke Rp1.955 dengan transaksi sekitar Rp419,65 miliar, sementara ELSA bertambah 1,06% ke Rp950 dengan volume Rp119,12 miliar.
Namun kinerja IHSG kompak melemah, IHSG turun 2,57% ke level 7.735,40, menandai tren penurunan tiga hari berturut-turut di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah. Kondisi ini menunjukkan bahwa pergerakan saham sektor migas masih dipengaruhi dinamika pasar yang lebih luas, bukan sekadar kinerja individu emiten.
Harga minyak dunia akhirnya menutup sesi Selasa (3/3/2026) dengan lonjakan signifikan, Brent naik 4,7% ke USD81,40 per barel, menyentuh level tertinggi sejak Januari 2025. Lonjakan harga ini mencerminkan kekhawatiran terhadap pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah dan tindakan militer yang berpotensi menggangu jalur perdagangan minyak.
West Texas Intermediate (WTI) AS melanjutkan kenaikan hingga USD74,56 per barel, naik USD3,33 atau 4,7%, level tertinggi sejak Juni. Sinyal ini menambah tekanan pada biaya energi global dan berpotensi memicu rebalancing portofolio di pasar saham global.
Seiring konflik meningkat, Brent telah melonjak sekitar 12% sejak awal eskalasi, sementara laporan Reuters menyebutkan serangan balasan Iran di Teluk dan Lebanon sejalan dengan serangan udara AS-Israel terhadap Iran. Di sisi produksi, Irak memangkas produksi hampir 1,5 juta barel per hari karena kehabisan kapasitas penyimpanan minyak yang tidak bisa diekspor.
Kekhawatiran meningkat setelah media Iran melaporkan bahwa Iran akan menembaki kapal mana pun yang mencoba melintas. Analisis Standard Chartered menyebut pembalasan Iran bisa meluas, menciptakan sejumlah titik panas regional yang berisiko nyata terhadap pasokan. Presiden AS Donald Trump menyatakan serangan udara AS dan Israel diperkirakan berlangsung empat hingga lima pekan, namun bisa berjalan lebih lama. Brent sempat menyentuh USD85,12 per barel pada sesi tersebut, tertinggi sejak Juli 2024, sebelum memangkas kenaikan setelah pernyataan Trump.