Dalam langkah yang mengubah lanskap industri kesehatan nasional, PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) mengumumkan akuisisi 14 properti rumah sakit milik First Real Estate Investment Trust (First REIT) asal Singapura. Langkah ini bukan sekadar ekspansi, melainkan upaya memperkuat jaringan layanan dan menambah kapasitas perawatan untuk masa depan. Pergerakan ini menunjukkan fokus perusahaan pada pertumbuhan melalui aset real estat yang terintegrasi dengan operasional rumah sakit.
Transaksi dilakukan melalui dua tahap kerja sama dengan entitas anak, PT Megapratama Karya Bersama. Nilai total akuisisi mencapai sekitar Rp9 triliun, menggambarkan komitmen signifikan dalam memperluas portofolio aset ritel kesehatan.
Tata kelola dan risiko integrasi akan diawasi ketat, mengingat diperlukan sinergi operasional antara rumah sakit yang sudah ada dengan properti baru untuk menjaga kualitas layanan. Informasi ini dipaparkan dalam keterbukaan pasar dan dicermati para analis industri.
Transaksi dilakukan dalam dua skema: tahap pertama berupa perjanjian jual beli bersyarat untuk delapan properti, sementara tahap kedua menggunakan mekanisme opsi jual bagi penjual untuk enam properti berikutnya. Skema ini memungkinkan proses akuisisi berjalan bertahap sambil mempertahankan fleksibilitas bagi kedua pihak.
Nilai keseluruhan akuisisi diperkirakan Rp9 triliun, dengan Rp5,12 triliun pada tahap pertama dan Rp3,88 triliun pada tahap kedua. Aset yang dibeli mencakup properti rumah sakit di berbagai lokasi, seperti Lippo Village, Kebon Jeruk, Manado, Denpasar, Purwakarta, Kupang, Sriwijaya, Baubau di tahap pertama dan Lippo Cikarang, MRCCC, Makassar, TB Simatupang, Labuan Bajo, serta Yogyakarta pada tahap kedua.
Adapun pembiayaan akuisisi berasal dari fasilitas kredit sindikasi, yang menguatkan struktur modal perusahaan untuk memuluskan penyelesaian transaksi dan integrasi aset baru secara finansial.
Keberlanjutan kinerja keuangan Siloam menunjukkan momentum positif. Laba bersih 2025 mencapai Rp1,16 triliun, tumbuh sekitar 22,5 persen, didorong oleh pertumbuhan pendapatan menjadi Rp9,95 triliun. Peningkatan ini mencerminkan kombinasi efisiensi biaya dan peningkatan volume layanan kesehatan.
Secara operasional, indikator kunci menunjukan pemulihan kapasitas layanan: rawat inap bertambah 2,5 persen menjadi 317.900 pasien, hari perawatan naik 0,3 persen menjadi sekitar 1,01 juta, serta kunjungan rawat jalan mencapai 4,35 juta. Selain itu, jumlah tempat tidur operasional mencapai 4.310 dengan tingkat hunian 64,2 persen.
Menurut analisis internal Cetro Trading Insight, akuisisi ini membawa sinyal fundamental positif untuk strategi ekspansi jangka menengah, meskipun rekomendasi trading pada saham SILO belum ditentukan tanpa konfirmasi pergerakan harga. Investor disarankan memantau persetujuan RUPS dan regulasi terkait sebagai faktor kunci dalam proses integrasi.