Societe Generale mengamati bahwa pergerakan harga Brent futures belakangan sangat volatil dipicu oleh berita konflik geopolitik. Brent sempat rebound ke sekitar 95 dollar per barel seiring eskalasi ketegangan. Secara fisik, aliran pasokan tetap ketat di pasar global, dan logistik melalui Teluk Persia mengalami kendala signifikan. Penundaan normalisasi pasokan menurut historis memperkuat tekanan kenaikan harga jangka panjang.
Analisis mereka menyoroti bahwa dinamika logistik dan distribusi minyak mentah memperumit upaya pemulihan produksi. Dalam konteks ini, volatilitas meningkat karena ketidakpastian mengenai kapan gangguan akan mereda. Data dan pengalaman historis menunjukkan bahwa proses normalisasi bisa sangat lambat, menambah premi risiko bagi pembeli minyak mentah.
Media kita, Cetro Trading Insight, menilai bahwa proyeksi harga Brent telah diperbarui untuk menggambarkan skenario di mana gangguan di Teluk Persia berlarut. Mereka menekankan bahwa lonjakan harga tidak hanya didorong oleh harga sekarang, melainkan oleh ekspektasi pasar terhadap keseimbangan pasokan di masa depan.
Menurut skenario dasar yang diungkapkan oleh para analis, produksi diperkirakan mulai pulih pada Mei. Namun, pemulihan penuh dan normalisasi pasokan diperkirakan tidak terjadi hingga sekitar sembilan bulan setelah konflik berakhir. Perkiraan ini sejalan dengan pola historis dua dekade terakhir saat krisis minyak memerlukan waktu bertahun untuk kembali ke tingkat normal.
Dengan asumsi seperti itu, proyeksi harga Brent untuk akhir 2026 telah dinaikkan dari sekitar 79 dolar per barel menjadi sekitar 85 dolar per barel. Meskipun demikian, para analis memperingatkan bahwa angka ini bisa lebih tinggi jika gangguan logistik, asuransi kapal, kerusakan pelabuhan, dan proses pembersihan debris memperlambat pemulihan pasokan lebih lanjut.
Catatan pentingnya, normalisasi menyentuh puncaknya hanya menjelang akhir 2026 menurut skenario yang dihasilkan. Bahkan dalam skenario optimis pun, inventori global diperkirakan baru mulai menstabilkan tren menuju keseimbangan menuju Mei atau setelahnya, tergantung pada bagaimana konflik berkembang dan bagaimana dunia meresponsnya.
Di tengah dinamika tersebut, volatilitas harga minyak mentah diperkirakan tetap tinggi karena kombinasi geopolitik, kendala logistik, dan kapasitas penyimpanan yang berfluktuasi. Investor perlu menilai risiko jangka menengah yang timbul dari ketidakpastian di Teluk Persia serta dampak pada biaya angkatan produksi dan transportasi.
Analisis juga menyoroti pentingnya memantau progres normalisasi pasokan, termasuk jalur pelayaran, perlindungan asuransi, serta potensi kerusakan fisik pada infrastruktur. Perubahan kebijakan OPEC dan respons negara-produsen lain dapat memicu pergeseran pasokan global yang berdampak pada harga minyak.
Sinyal trading spesifik untuk instrumen ini tidak dapat ditarik dari laporan ini. Karena informasi saat ini lebih bersifat fundamental dan berjangka, rekomendasi trading yang tegas belum bisa ditarik. Oleh sebab itu, sinyal yang diberikan adalah no dengan level yang tidak berlaku.