Menurut analisis Cetro Trading Insight, analis FX senior Rabobank, Jane Foley, menunjukkan bahwa sinyal hawkish Gubernur BoJ, Kazuo Ueda, di awal tahun cenderung mereda setelah komentar yang lebih berhati-hati pada pertemuan IMF. Hal ini menciptakan ketidakpastian di pasar mengenai arah kebijakan. Pasar menilai bahwa langkah kenaikan suku bunga pada April belum pasti, mengingat sinyal yang berubah-ubah dan ketidakpastian global.
Beberapa pengamat tetap melihat jalur kebijakan BoJ kemungkinan mengetat menjelang akhir Juni. Data domestik yang lebih kuat dan dinamika pertemuan IMF disebut sebagai input utama bagi pembuat kebijakan untuk memetakan langkah selanjutnya. Proyeksi ini masih dibayangi oleh pernyataan guburnor yang beragam yang menandai adanya kesenjangan antara harapan pasar dan realitas kebijakan.
Data upah riil Februari naik 1,9% y/y, menandai kelanjutan tren peningkatan pendapatan yang bisa mendukung permintaan domestik. Sementara itu, rilis CPI nasional yang dijadwalkan 24 April dipandang sebagai kunci untuk menilai daya dorong inflasi domestik bagi jalur kebijakan BoJ. Analis menekankan bahwa jawaban atas CPI akan sangat menentukan apakah BoJ akan mempertahankan atau mengubah arah kebijakannya.
Sepanjang tahun ini, Ueda menghadirkan sinyal hawkish yang berfluktuasi. Namun pernyataannya di pertemuan IMF di Washington pekan lalu banyak ditafsirkan sebagai upaya menghindari panduan langsung mengenai kebijakan suku bunga. Interpretasi ini mencerminkan tantangan pasar dalam membaca komunikasi kebijakan yang sering disertai nuansa.
Kombinasi pandangan pasar dan survei Reuters menunjukkan dua pertiga pengamat BoJ percaya bank sentral akan menaikkan suku bunga pada akhir Juni. Peluang untuk langkah pada April juga disebut seimbang, menggambarkan ketidakpastian timing. Hal ini membuat kalender data domestik menjadi penentu utama arah kebijakan.
Data upah yang kuat, termasuk lonjakan 1,9% y/y di Februari, memperkuat narasi bahwa tekanan permintaan domestik bisa mendorong BoJ untuk lebih tegas. Pasar juga menantikan rilis CPI Maret yang dijadwalkan 24 April untuk melihat apakah tekanan inflasi membaik ke target Bank Sentral. Dukungan data ini meningkatkan optimisme akan arah kebijakan yang lebih jelas di masa mendatang.
Berbasis survei dan dinamika pasar, ada dua skenario utama: peluang kenaikan pada Juni sekitar 2/3 dan kemungkinan percepatan ke April menurut pertemuan kebijakan. Proyeksi ini membentuk jalur volatilitas bagi pasangan USDJPY sepanjang minggu dan bulan depan. Investor menimbang preferensi kebijakan BoJ bersama dengan arah dolar AS di pasar global.
Implikasi untuk USDJPY bergantung pada arah kebijakan BoJ. Kenaikan suku bunga Jepang akan menguatkan yen secara relatif terhadap dolar, sehingga USDJPY bisa turun. Sebaliknya, jika langkah pengetatan terhambat, pasangan ini bisa tetap dipengaruhi oleh dinamika dolar AS dan sentimen risiko.
Inti bagi investor adalah menilai data domestik secara berurutan dan memantau bagaimana BoJ mengkomunikasikan jalur kebijakan ke depan. Dengan CPI April dan komentar kebijakan yang lebih jelas, pasar akan menilai apakah ekspektasi kenaikan benar-benar akan terwujud. Risiko timing kebijakan tetap menjadi fokus utama dalam beberapa minggu ke depan.