Soechi Lines Luncurkan PUB Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Tahap I 2026 dengan Dua Kapal sebagai Aset Dasar

Soechi Lines Luncurkan PUB Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Tahap I 2026 dengan Dua Kapal sebagai Aset Dasar

trading sekarang

Di tengah dinamika likuiditas global dan kebutuhan pembiayaan berkelanjutan, Soechi Lines Tbk meluncurkan PUB Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2026. Langkah ini lebih dari sekadar pernyataan pendanaan; ia menandai komitmen perusahaan pelayaran nasional untuk mendanai ekspansi jangka panjang melalui instrumen syariah yang transparan dan berlandaskan prinsip kehati-hatian. Program ini menargetkan penghimpunan hingga Rp500 miliar dalam dua seri dengan tenor 3 dan 5 tahun, sejalan dengan target pembiayaan total mencapai Rp3 triliun.

Menurut kajian awal, struktur ini dirancang agar aliran kas dari sewa kapal menjadi sumber pembayaran cicilan ijarah dan pelunasan pokok secara teratur. Analisis ini juga menyoroti bagaimana potensi risiko nilai kapal ditangani secara syariah melalui mekanisme penggantian aset jika diperlukan. Cetro Trading Insight melihat langkah ini sebagai tanda kebijakan pembiayaan berkelanjutan yang semakin mapan di sektor perkapalan Indonesia.

Penawaran umum dijadwalkan berlangsung pada 2–3 Juli 2026, dengan penjatahan 6 Juli dan distribusi elektronik pada 8 Juli, serta pencatatan di BEI 9 Juli. Transaksi ini akan menggunakan fasilitas pendanaan pendukung hingga Rp3 triliun melalui Credit Enhancement Facility (CEF) dari SMID, menambah keandalan pembayaran kepada pemegang sukuk. Dengan demikian, program ini diharapkan mempertegas kualitas kredit dan menarik minat investor institusional.

Instrumen ini menggunakan akad ijarah dengan dua kapal sebagai aset dasar, yaitu FSO Arjuna Prima dan SC Sapphire. Aset pertama adalah kapal FSO berbendera Indonesia dengan kapasitas DWT 109.325 ton yang memiliki nilai pasar sekitar Rp528,69 miliar; sewa tahunan mencapai sekitar Rp136,51 miliar. Aset kedua adalah kapal tanker berbendera Marshall Islands dengan kapasitas DWT 45.800 ton yang bernilai pasar sekitar Rp229,78 miliar dan sewa tahunan Rp120,99 miliar.

Dalam struktur transaksinya, Soechi Lines memperoleh hak manfaat atas aset kapal dari entitas anak dan kemudian mengalihkan hak tersebut kepada pemegang sukuk. Perseroan bertindak sebagai wakil pemegang sukuk untuk menyewakan aset kepada pengguna akhir melalui anak perusahaan. Pendapatan sewa menjadi sumber pembayaran cicilan ijarah dan pelunasan pokok sesuai perjanjian.

Penjaminan kualitas kredit diperkuat oleh Credit Enhancement Facility (CEF) dari PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) senilai maksimal Rp3 triliun. Fasilitas standby ini dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dana cadangan pembayaran imbalan maupun pelunasan pokok sesuai ketentuan perjanjian. Peringkat idAAA(sy)(sf) diberikan oleh Pefindo untuk masa 19 Mei 2026 hingga 1 Februari 2027, menambah kepercayaan investor terhadap struktur ini.

Dari sisi investor, Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Tahap I menawarkan eksposur berbasis aset dengan risiko relatif terukur berkat kehadiran dua kapal sebagai jaminan. Ketentuan perlindungan syariah mencakup opsi penggantian aset jika nilai ijarah menurun melebihi sisa imbalan, sehingga likuiditas tetap terjaga dalam kerangka syariah. Pembayaran cicilan dan pelunasan pokok dijaga melalui aliran sewa yang didukung aset konkret, sehingga profil risiko-risiko utama dapat diminimalkan.

Secara makro, langkah Soechi Lines memperkaya opsi pendanaan berbasis syariah bagi sektor pelayaran, tanker, dan jasa maritim di Indonesia. Pasar modal syariah di Indonesia terus berkembang dengan dukungan lembaga, rating kredit yang solid, serta dukungan fasilitas pendanaan tambahan. Cetro Trading Insight memperkirakan minat investor institusional terhadap instrumen berlandaskan ijarah ini akan meningkat seiring meningkatnya transparansi aset dan kepatuhan syariah.

Investor dapat mengikuti perkembangan transaksi ini melalui BEI sejak penjatahan hingga pencatatan saham, dengan realisasi pembayaran imbalan ijarah dan pokok yang terukur. Cetro Trading Insight menyarankan evaluasi berkala terhadap kapasitas pembayaran sewa serta nilai pasar aset untuk memastikan sinyal investasi tetap sejalan dengan profil risiko yang diharapkan.

banner footer