DBS Group Research mencatat Taiwan memasuki 2026 dengan fondasi yang kuat. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan tenaga dorong dari permintaan global untuk produk berbasis kecerdasan buatan dan dari pelonggaran tekanan tarif AS terhadap impor teknologi. Inflasi yang relatif rendah juga menjadi landasan bagi outlook yang cerah di awal tahun.
Ekspor terkait AI menjadi lokomotif utama, meningkatkan pendapatan bagi industri manufaktur dan perusahaan teknologi lokal. Sementara itu, dinamika perdagangan global yang lebih fleksibel karena perbaikan hubungan dengan Amerika Serikat turut menguatkan prospek ekspor. Secara keseluruhan, indikator awal menunjuk pada momentum positif pada kuartal pertama 2026.
Kondisi ini dibarengi revisi CPI menjadi 1.9% dan memastikan pertumbuhan PDB tetap di kisaran tinggi sekitar 7.0%. Meski demikian, para analis menekankan bahwa base case tetap rentan jika faktor luar negeri melemah. Kebijakan fiskal dan moneter dirancang untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, inflasi, dan cost-pressure bagi eksportir.
Ketegangan geopolitik di wilayah energi meningkatkan volatilitas harga minyak dan gas, sehingga biaya produksi dan transportasi bagi Taiwan bisa naik secara signifikan. Ketergantungan pada import energi menambah risiko bagi margin produsen dan biaya logistik, terutama pada sektor industri berat. Dalam konteks ini, dinamika harga energi menjadi faktor utama yang bisa meredam dinamika pertumbuhan.
Meskipun ada pelonggaran tarif AS yang mengurangi sebagian beban impor, tekanan biaya input tetap tinggi karena fluktuasi harga energi dan rantai pasokan global. Efek kumulatifnya adalah potensi kenaikan biaya produksi bagi sektor manufaktur, meskipun permintaan teknologi global masih solid. Perubahan biaya ini bisa menggeser komposisi kontribusi sektor ekspor terhadap GDP.
Beralih ke angka makro, CPI direvisi ke 1.9% sementara GDP dipertahankan di 7.0% menunjukkan keseimbangan yang rapuh antara dorongan permintaan dan gangguan pasokan. Para analis menilai bahwa keseimbangan ini bisa berubah jika eskalasi konflik regional memperpanjang tekanan energi. Kebijakan nasional perlu menimbang respons terhadap kedua dinamika tersebut.
Indikator leading menunjukkan adanya tekanan inflasi yang mungkin naik meski ekspor berbalik arah moderat. Data PMI untuk Maret mencatat lonjakan biaya input yang tinggi, setara dengan level tertinggi yang terlihat sejak periode konflik Rusia-Ukraina pada 2022. Hal ini menggarisbawahi perlunya pengawasan ketat terhadap komponen biaya produksi dan permintaan luar negeri.
Para analis menekankan bahwa permintaan global untuk produk berbasis AI tetap menjadi sumber kunci pertumbuhan, tetapi perlambatan ekspor menambah sisi risiko bagi Taiwan. Arus perdagangan internasional bisa berubah tergantung bagaimana konflik di Timur Tengah dan kebijakan perdagangan utama mempengaruhi aliran barang. Pasar perlu waspada terhadap perubahan spektrum biaya dan volume pesanan ekspor.
Secara keseluruhan, artikel menekankan bahwa Taiwan berada di persimpangan kebijakan dan keseimbangan pasar. Walau ada peluang pertumbuhan berlanjut, volatilitas energi dan ketidakpastian permintaan global bisa menahan momentum. Investor disarankan melakukan diversifikasi dan menjaga view jangka menengah terhadap sektor teknologi serta lintasan ekspor.