Menurut Thu Lan Nguyen dari Commerzbank, putusan Mahkamah Agung AS menambah keruhnya gambaran kebijakan tarif negara itu. Ia mencatat bahwa Presiden Trump merespons dengan mengumumkan dan kemudian menaikkan tarif global baru sebagai bagian dari respons kebijakan luar negeri. Analisis ini menyoroti bagaimana alat tarif diposisikan sebagai bagian dari kebijakan fiskal dan diplomasi dagang negara besar.
Pasar valuta asing pun merespons, meskipun secara moderat, dengan fokus utama pada implikasi fiskal dan penggunaan tarif sebagai alat kebijakan luar negeri. Para analis menimbang potensi dampak jangka panjang terhadap arus modal dan biaya pendanaan negara. Reaksi pasar menunjukkan bahwa berita kebijakan lebih sering menentukan arah risiko daripada perubahan teknis jangka pendek.
Tarif dianggap sebagai sumber pendanaan utama bagi rencana fiskal ekspansif pemerintah. Pembatalan atau pengembalian tarif yang sudah dikumpulkan bisa menimbulkan keruwetan pada neraca anggaran dan perdebatan pendapatan negara. Pemerintah menegaskan akan mencari jalur lain untuk tetap mengenakan tarif di masa mendatang, meskipun dikenalkan tarif global baru hanya bersifat sementara selama 150 hari.
Dalam kerangka fiskal, tarif berperan sebagai alat pembiayaan untuk program ekspansif pemerintah. Hal ini membuat para analis mempertanyakan apakah pembiayaan berjalan seiring dengan tujuan sosial dan pertumbuhan ekonomi. Ketidakpastian seputar pendapatan tarif mempengaruhi perencanaan anggaran jangka menengah hingga panjang.
Selain itu, tarif bukan hanya instrumen perdagangan; ia juga berfungsi sebagai mekanisme pendanaan yang memengaruhi aliran pendapatan negara. Ketika kebijakan tarif berubah, dampaknya bisa menyebar ke berbagai sektor, dari belanja publik hingga biaya kebijakan luar negeri. Investor dan pembuat kebijakan perlu menimbang konsekuensi fiskal terhadap fleksibilitas anggaran nasional.
Walau ada gagasan tentang tarif datar global sementara 150 hari, banyak “bagian” kebijakan lain yang bisa dikedepankan otoritas untuk mengenakan tarif di masa depan. White House menegaskan akan mengeksplorasi seluruh opsi yang tersedia untuk menjaga daya tarik dan tekanan terhadap mitra dagang. Perubahan kebijakan semacam ini tetap menjadi sumber ketidakpastian bagi pasar.
Dari sudut pandang investor USD, potensi instrumen pengganti tarif jauh lebih menakutkan daripada tarif itu sendiri. Tarif dianggap sebagai alat utama untuk menegakkan tujuan kebijakan luar negeri, sehingga respons kebijakan lain bisa membawa volatilitas tertentu dan perubahan struktur biaya pendanaan negara.
Pengaruh kebijakan semacam ini terhadap dolar berakar pada dinamika neraca pembayaran, arus modal, dan persepsi risiko. Investor perlu membedakan antara perubahan teknis jangka pendek dan tren fiskal jangka panjang untuk menghindari kesalahan interpretasi pasar. Analisis fundamental tetap menjadi kunci dalam menyaring peluang dan risiko di tengah kebijakan tarif yang berubah-ubah.
Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk membantu pembaca memahami paparan risiko dan pola pasar. Tetap pantau sinyal kebijakan, respons pasar, serta komentar otoritas sebagai bagian dari strategi investasi Anda.