
Menurut analis TD Securities, inflasi konsumen Amerika Serikat diperkirakan lebih menguat pada bulan April. Core CPI diperkirakan meningkat 0.38 persen secara bulanan dan 2.8 persen secara tahunan, sementara headline CPI diperkirakan naik 0.56 persen secara bulanan dan 3.7 persen secara tahunan. Data ini menunjukkan momentum harga yang lebih kuat pada komponen inti dibandingkan ekspektasi pasar beberapa waktu terakhir. Rilis data tersebut dipantau secara seksama karena bisa memengaruhi kebijakan bank sentral dan pergerakan pasar menjelang rilisan data resmi.
Faktor pendorong utama yang disebutkan adalah rebound harga perumahan (shelter) dan kenaikan biaya perjalanan udara akibat lonjakan harga minyak. Para analis mencatat bahwa harga sewa rumah menunjukkan pemulihan setelah beberapa bulan tertahan oleh kebijakan pemerintah. Sementara itu, tekanan pada transportasi menjadi kontributor utama bagi inflasi inti dalam periode ini.
Para penilai juga menekankan bahwa risiko terhadap proyeksi bisa lebih tinggi jika transmisi harga bahan bakar jet ke tarif udara melebihi ekspektasi. Selain itu, proyeksi CPI inti sekitar 2.8 persen secara tahunan menimbulkan gambaran bahwa inflasi bisa mencapai puncaknya sekitar 2.9 persen pada kuartal kedua. Mereka menambahkan bahwa volatilitas di pasar energi dan ketegangan geopolitik bisa memperpanjang tekanan harga lebih lama dari yang diperkirakan.
Rebound di sektor shelter menjadi faktor utama yang didorong bias inflasi. Harga hunian membaik setelah beberapa periode relatif menahan tekanan, meski pemulihan penuh tergantung pada dinamika kebijakan fiskal dan pasar properti. Konsumen bisa merasakan dampak lebih jelas melalui biaya layanan rumah tangga yang lebih tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
Selain itu, biaya tiket pesawat diperkirakan naik karena respons terhadap lonjakan harga minyak mentah. Lonjakan harga BBM juga mempengaruhi komponen energi dan transportasi sehingga menawarkan potensi untuk mendorong inflasi lebih lanjut. Diperkirakan pula bahwa lonjakan harga gasoline sekitar 5 persen berkontribusi pada kenaikan headline CPI.
Di sisi lain, proyeksi core CPI yang berada di 2.8 persen secara tahunan mengindikasikan puncak sekitar 2.9 persen pada kuartal kedua. Meskipun demikian, narasi disinflasi tetap ada karena faktor-faktor penekan harga diperkirakan mereda seiring waktu. Risiko eksternal seperti konflik di Iran juga disebut sebagai faktor risiko yang bisa menambah tekanan bila terjadi eskalasi.
Dengan angka CPI yang lebih kuat dari ekspektasi, pelaku pasar kemungkinan menilai risiko kebijakan moneter yang lebih hawkish. Reaksi bisa terlihat pada volatilitas imbal hasil dan pergeseran harga di pasar valuta asing serta saham. Meski begitu, narasi disinflasi secara bertahap tetap menjadi kerangka kerja utama bagi investor.
Meskipun risiko upside ada, skema disinflasi yang berkelanjutan diperkirakan tetap berlangsung hingga akhir tahun. Hal ini memberi ruang bagi strategi alokasi aset yang lebih hati-hati sambil menunggu data inflasi lanjut. Investor disarankan memantau rilis data berikutnya untuk menilai durasi dampak inflasi terhadap kebijakan moneter.
Artikel ini disusun untuk pembaca awam namun tetap menggarisbawahi konteks makro ekonomi. Kami di Cetro Trading Insight berkomitmen menyediakan analisis yang informatif tanpa merekomendasikan instrumen tertentu secara spesifik. Informasi dalam edisi ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan saran profesional.