
Analisis dari Commerzbank menunjukkan tembaga berada pada level harga tertinggi sepanjang masa di London Metal Exchange, didorong oleh permintaan struktural akibat transisi energi menuju sumber energi bersih serta peningkatan kebutuhan data center. Harga tembaga melampaui angka USD 14.000 per ton, menandai reli harga yang menonjol dalam beberapa bulan terakhir.
Sentimen di pasar logam dasar tetap positif meskipun harga energi meningkat signifikan. Indeks LME mencapai rekor baru, menambah dorongan bagi produsen tembaga untuk mempertahankan pola pembelian. Hal ini mencerminkan kombinasi dukungan dari permintaan sektor teknologi serta kesiapan rantai pasokan global menyesuaikan diri dengan dinamika harga.
Selain kekhawatiran soal kekurangan bijih tembaga, prospek kebijakan perdagangan AS turut menjadi faktor pendongak harga. Administrasi Perdagangan AS diperkirakan memutuskan akhir bulan Juni apakah perpanjangan tarif pada tembaga olahan akan diberlakukan. Proyeksi awal menyebut tarif 15% mulai 1 Januari 2027, dengan rencana peningkatan 30% satu tahun kemudian. Impor tembaga telah naik hampir dua kali lipat tahun lalu sebagai bagian dari pembelian dini menghadapi risiko tarif. Sejak pertengahan April, persediaan di COMEX juga mulai meningkat lagi, menambah tekanan pada pasokan di luar AS.
Rencana kebijakan perdagangan AS berpotensi menambah beban pada impor tembaga olahan sebagai bagian dari upaya melindungi industri domestik. Proposal tarif ini menetapkan 15% mulai 1 Januari 2027 dan kenaikan menjadi 30% pada tahun berikutnya, yang dapat memperlambat arus masuk logam ke pasar AS.
Kementerian Perdagangan AS diperkirakan membuat keputusan akhir tentang perpanjangan tarif pada tembaga olahan pada akhir Juni, sehingga pasar global akan menimbang risiko perdagangan sebagai faktor penentu harga. Sementara itu, respons awal pasar menunjukkan adanya pembelian pre-emptive yang memanfaatkan harga rendah sebelumnya sebelum kebijakan diberlakukan.
Impor tembaga AS pada tahun sebelumnya hampir dua kali lipat dibandingkan periode sebelumnya, indikasi kuat bahwa pembelian antisipatif menjelang tarif mendorong lonjakan stack stok di luar negeri. Tren ini meningkatkan volatilitas harga tembaga global karena aliran pasokan juga disesuaikan terhadap potensi perubahan tarif. Sejak pertengahan April, inventaris COMEX kembali meningkat, sehingga pasokan di luar AS menjadi lebih ketat meskipun permintaan global tetap kuat.
Ada kekhawatiran berkelanjutan mengenai kekurangan bijih tembaga, yang jika terbukti dapat menopang harga lebih tinggi seiring permintaan industri meningkat. Kebutuhan akan logam ini dalam konstruksi infrastruktur energi bersih dan teknologi data center menjadi pendorong utama bagi pandangan jangka menengah.
Sebaliknya, kebijakan tarif AS yang diusulkan bisa mendorong akumulasi stok pembeli global, sehingga dinamika pasokan dan harga menyesuaikan. Pasar akan memantau bagaimana kebijakan perdagangan berimplikasi pada biaya produksi dan arus logam ke wilayah yang membutuhkan.
Bagi investor dan analis, penting untuk memantau kombinasi faktor-faktor fundamental seperti permintaan energi terbarukan, inventaris COMEX, serta keluaran kebijakan perdagangan. Analisis menyarankan pendekatan yang berkelanjutan, dengan bias pada fundamental jangka panjang dan manajemen risiko yang tepat, mengingat volatilitas yang mungkin timbul dari perubahan kebijakan.