Berita terbaru menyatakan bahwa Presiden AS, Donald Trump, mempertimbangkan serangan udara terbatas terhadap Iran sebagai bagian dari kebijakan luar negeri. Laporan ini menyoroti bahwa opsi militer tetap di meja jika jalur diplomasi tidak membuahkan hasil. Para analis melihat langkah ini sebagai sinyal bahwa ancaman ekonomi dan geopolitik sedang menambah ketegangan di kawasan.
Trump menekankan bahwa diplomasi atau serangan terarah pertama tidak cukup untuk memaksa Iran berhenti mengerjakan program nuklirnya, dan opsi eskalasi akan dipertimbangkan dalam beberapa bulan ke depan. Penilaian ini menunjukkan bahwa Washington masih menguji batas toleransi risiko saat negosiasi berlangsung. Sumber-sumber di pemerintahan menegaskan bahwa semua pilihan tetap terbuka.
Pertemuan selanjutnya antara AS dan Iran direncanakan berlangsung di Jenewa pada Kamis mendatang, menambah ketidakpastian di pasar. Berbagai pihak menilai bagaimana hasil negosiasi bisa menentukan arah kebijakan militer dan respons pasar. Menurut Cetro Trading Insight, dinamika ini menekankan pentingnya memantau perkembangan diplomasi dan risiko geopolitik secara terus-menerus.
Klaim adanya opsi militer menciptakan volatilitas pada aset berisiko, meskipun fokus utama tetap pada negosiasi. Investor menimbang implikasi terhadap arus modal, imbal hasil, dan volatilitas mata uang.
Pada saat ini, US Dollar Index (DXY) tercatat melemah sekitar 0,36% menuju level 97,40, mencerminkan pasar yang menilai ketidakpastian dengan cara yang berubah-ubah. Pergerakan ini sering kali menambah tekanan pada aset berisiko sambil membuka peluang bagi instrumen keamanan nilai simpanan.
Dengan dinamika yang masih berkembang, investor disarankan untuk menyeimbangkan portofolio dan menyaring informasi diplomasi yang bisa memicu perubahan arah pasar. Reaksi pasar akan sangat bergantung pada hasil negosiasi, sanksi tambahan, dan keputusan kebijakan luar negeri yang akan datang.