UE akan menandatangani perjanjian perdagangan bebas dengan blok Mercosur, yaitu Argentina, Brasil, Paraguay, dan Uruguay, 25 tahun setelah dimulainya negosiasi. Perjanjian ini berlangsung meskipun masih memerlukan ratifikasi di tingkat nasional. Para analis melihat langkah ini sebagai bagian dari strategi UE untuk memperluas mitra dagang dan mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional. Proses politik di tingkat negara anggota menjadi faktor penting yang bisa mempengaruhi jadwal implementasin.
Kesepakatan tersebut mencakup penghapusan bea masuk pada ekspor Mercosur ke UE sebesar 92% dalam sepuluh tahun, dan penghapusan bea ekspor UE ke Mercosur sekitar 91% dalam periode hingga 15 tahun. Ini menjadikan perjanjian salah satu blok perdagangan bebas terbesar di dunia dan berpotensi mengubah arus perdagangan dua wilayah secara signifikan. Meski demikian, muncul kekhawatiran dampak persaingan pada sektor pertanian yang sensitif bagi beberapa negara anggota. Akhirnya, negosiasi menyertakan konsesi di saat-saat terakhir yang membantu meredakan penolakan Italia dan memastikan dukungan mayoritas UE.
Namun proses ratifikasi tetap menjadi kendala utama karena memerlukan persetujuan semua 27 negara anggota UE. Ada indikasi bahwa pihak-pihak terkait membahas jalur implementasi bertahap, termasuk kemungkinan Perjanjian Perdagangan sementara yang fleksibel. Analisis menunjukkan bahwa tanpa persetujuan parlemen Eropa, perjanjian tidak bisa mulai berlaku secara penuh meskipun beberapa langkah awal dapat diberlakukan. Para analis menekankan bahwa manfaat ekonomi secara signifikan akan terakumulasi secara bertahap jika ratifikasi terpenuhi.
Secara garis besar, para ekonom menilai potensi peningkatan PDB bagi kedua blok dalam jangka panjang, meskipun dampak terbesar kemungkinan terjadi di Mercosur karena ukuran pasar dan keragaman ekspor komoditasnya. Untuk UE, manfaat utama disebut sebagai kemenangan geopolitik yang signifikan, mengingat tarif porak poranda dari kebijakan AS dan meningkatnya tekanan persaingan perdagangan dengan China. Analisis dari lembaga keuangan seperti Standard Chartered menekankan bahwa efek positif akan berkembang seiring waktu dan tidak langsung terlihat. Oleh karena itu, fokusnya adalah pada fondasi kebijakan dan pelaksanaan yang konsisten.
Di sisi lain, kesepakatan ini membantu diversifikasi jalur perdagangan dan mengurangi risiko ketergantungan pada satu pasar besar. Secara konteks geopolitik, perjanjian disebut sebagai tanda komitmen UE untuk menjaga pengaruhnya di tengah perubahan aliansi global. Di masa depan, manfaat ekonomi nyata akan bergantung pada implementasi perjanjian, kepatuhan standar, dan respons mitra Mercosur terhadap reformasi kebijakan domestik.
Rencana implementasi diperkirakan berjalan secara bertahap, dan manfaat ekonomi UE dinilai terakumulasi secara sangat bertahap karena proses ratifikasi nasional yang tidak dijamin. Perjanjian Kemitraan UE-Mercosur dipandang menuntut persetujuan semua anggota parlemen untuk pengesahan final, sehingga rencana manfaat jangka panjang bisa tertunda. Secara umum, pejabat ekonomi menegaskan bahwa mereka tidak akan merevisi proyeksi ekonomi secara drastis karena dinamika politik domestik.
Proses ratifikasi tetap menjadi tantangan utama karena memerlukan persetujuan dari 27 negara anggota UE. Beberapa negara sempat menahan diri pada tahap akhir negosiasi, meskipun Italia akhirnya memberi dukungan melalui konsesi yang disepakati pada momen krusial. Para analis menekankan bahwa kemajuan tersebut tidak menjamin persetujuan penuh, karena dinamika politik dalam setiap negara anggota dapat berubah. Pengambil kebijakan menilai bahwa jalur ratifikasi akan menjadi proses yang panjang dan berpotensi tertunda.
Sebagai bagian dari kerangka kerja, perjanjian perdagangan sementara disebut sebagai langkah awal, tetapi tidak sepenuhnya menggantikan ratifikasi nasional dan tetap memerlukan persetujuan Parlemen Eropa. Proses ini menggambarkan tantangan politik yang sering menghambat penyelesaian perjanjian besar di tingkat regional. Para pelaku pasar dan analis menunggu detail implementasi teknis, termasuk standar perdagangan, lingkungan, dan perlindungan pertanian.
Secara umum, pandangan para ekonom adalah bahwa manfaat jangka panjang sangat bergantung pada komitmen kedua pihak untuk menepati janji dan menjaga kestabilan kebijakan. Risiko geopolitik seperti perubahan kebijakan proteksionis bisa menunda atau merusak manfaat yang diharapkan. Karena dinamika global yang dinamis, para pengamat tetap berhati-hati terhadap proyeksi jangka panjang meskipun prospek kebijakan terlihat menjanjikan.