
USD/IDR meningkat tipis pada perdagangan Asia, bergerak sekitar 17.960 setelah beberapa hari reli. Pergerakan ini terjadi meskipun ekspektasi pasar menakar adanya kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) pada rapat hari ini. Faktor risiko global dan aliran safe-haven ke dolar AS tetap menjadi pendorong utama di awal perdagangan.
IDR berada di bawah tekanan akibat sentimen risiko global dan antisipasi terhadap kebijakan BI. Pasar menilai BI kemungkinan menaikkan suku bunga guna menjaga daya tarik rupiah dan membatasi pelemahan nilai tukar di tengah tekanan inflasi serta arus modal. Langkah ini dimaksudkan untuk menjaga stabilitas eksternal sambil menahan tekanan harga dalam negeri.
Di samping kebijakan moneter, fokus pelaku pasar juga pada dinamika inflasi domestik yang terus diawasi. Menurut laporan Cetro Trading Insight, kebijakan BI dipandang sebagai kunci untuk menjaga kredibilitas fiskal dan keseimbangan pertumbuhan, meski ketegangan geopolitik global menambah tingkat ketidakpastian.
Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran meningkatkan permintaan terhadap aset safe-haven, sehingga dolar AS menguat terhadap sebagian besar pasangan mata uang. Risiko eskalasi regional membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dan cenderung mencari perlindungan pada dolar sebagai pelindung nilai utama.
Di sisi kebijakan moneter AS, sejumlah pejabat menekankan inflasi sebagai fokus utama yang perlu diawasi. Meskipun banyak pelaku pasar memperkirakan jeda pada kenaikan suku bunga jangka pendek, peluang untuk pengetatan kebijakan tetap ada dan tercermin pada harga pasar. CME FedWatch menunjukkan peluang lebih dari 71% untuk kenaikan 25 basis poin pada pertemuan FOMC September.
Secara teknikal dan fundamental, dinamika pasar mempengaruhi USD/IDR melalui respons terhadap risiko global dan ekspektasi kebijakan BI. Kendati BI berpotensi menjaga stabilitas rupiah, arah jangka pendek pasangan ini tetap bergantung pada sentimen global, arus modal, dan dinamika inflasi domestik.