Nilai tukar USD/JPY berada di sekitar 158,20, mendekati level tertinggi sepanjang tahun. Pesaing pasar terus memantau sentimen risiko karena dinamika politik dan kebijakan moneter yang saling terkait. Meski dolar dan yen sama-sama berfluktuasi, pasangan ini mempertahankan arah yang relatif kuat sepanjang sesi Eropa.
Indeks Dolar (DXY) terlihat melemah sekitar 0,4% ke posisi sekitar 98,70 setelah sempat menyentuh level bulanan di dekat 99,25. Koreksi ini membantu USD/JPY berupaya menjaga momentumnya meskipun banyak faktor menekan dolar secara luas. Para pelaku pasar menimbang sentimen risiko menjelang data inflasi AS. Investor juga menilai bagaimana kebijakan fiskal bisa mempengaruhi likuiditas dan volatilitas pasangan ini.
Pelaku pasar menanti rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) untuk Desember sebagai katalis utama. Inflasi yang lebih panas atau lebih datar bisa memicu pergeseran ekspektasi suku bunga dan arah pasangan mata uang ini pada minggu-minggu mendatang. Investor juga menilai bagaimana dinamika pasar global akan membentuk lintasan mata uang ini ke depan.
Kondisi politik dan kebijakan moneter mengalami sorotan karena tuduhan yang dilontarkan terhadap Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, terkait pengelolaan dana renovasi kantor pusat. Powell membantah tuduhan tersebut dan menegaskan itu tidak terkait dengan kebijakan bank sentral maupun proyek renovasi. Analisis pasar menilai dampaknya terhadap kredibilitas institusi.
Ketegangan ini menambah kekhawatiran mengenai independensi Fed, sebuah faktor yang bisa menimbang arah dolar AS. Walaupun demikian, fokus pasar tetap pada bagaimana kebijakan laju inflasi dan suku bunga akan berkembang ke depan. Investor juga menilai apakah pelaku kebijakan akan menunggu data ekonomi lebih lanjut sebelum mengubah pedoman.
Selain itu, pasar menantikan data CPI AS Desember untuk memperkuat pandangan terhadap probabilitas perubahan tingkat suku bunga. Secara geopolitik, ada potensi pemilu sela di Jepang yang bisa menambah volatilitas pada pasangan USD/JPY dalam beberapa hari mendatang. Kedua faktor ini menambah tekanan terhadap pergerakan mata uang di sesi-sesi mendatang.
Secara teknis, level sekitar 158,20 tetap menjadi wilayah penting yang dicermati para trader. Break di atas level tersebut bisa membuka peluang pergerakan lebih lanjut, sementara penolakan di sekitar area ini bisa memicu koreksi singkat. Kondisi likuiditas juga bisa mempengaruhi kecepatan eksekusi.
Yen Jepang tetap tertekan dalam tren global terhadap dolar karena ekspektasi bahwa Bank of Japan akan menjaga kebijakan ultra-longgaring lebih lama dibanding bank sentral lain. Pergerakan di pasar imbas berita politik dan data ekonomi bisa menentukan arah jangka pendek untuk USD/JPY. Investors juga menilai apakah BOJ akan mengubah strategi di masa mendatang.
Bagi para trader, kehati-hatian diperlukan karena sinyal trading belum jelas. Dengan CPI yang menjadi kata kunci utama dan adanya dinamika politik, keputusan trading sebaiknya mengandalkan konfirmasi data serta manajemen risiko yang tepat. Pembatasan risiko dan ukuran posisi yang tepat bisa membantu menahan volatilitas.