Spekulasi bahwa Perdana Menteri Takaichi akan memanggil pemilihan mendadak telah mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Jepang lebih tinggi dan melemahkan yen. Pergerakan ini membuat USD/JPY kembali mendekati level 159. Pasar tetap sangat volatil karena investor menilai dampak kebijakan fiskal dan geopolitik terhadap daya tarik yen.
Analis valas seperti Kit Juckes dari Société Générale menyatakan bahwa pada saat ini sulit bagi ahli strategi untuk memprediksi USD/JPY secara akurat. Ketidakpastian ini meningkat seiring dengan perubahan posisi JPY longs yang berbalik. Meski volatilitas masih tinggi, beberapa kalangan melihat peluang untuk menjual USD/JPY jika lonjakan terakhir berlanjut.
Berita pagi ini mengutip bahwa rencana PM Takaichi untuk pemilihan mendadak bertujuan memperkokoh cengkeraman LDP di DPR, yang mendorong imbal hasil naik dan menekan Yen Jepang. Sejarah menunjukkan ada momen ketika USD/JPY melampaui 160 saat posisi net short JPY meningkat tahun lalu. Di tengah kekangan fiskal dan penerbitan utang jangka panjang yang minim, para analis menilai bahwa peluang 'beli saat turun' pada JGB jangka panjang dapat menghadirkan tekanan terhadap yen lebih lanjut.
Pada tahun 2024, pasar berjangka membangun posisi net short JPY yang besar, dan USD/JPY sempat melonjak melewati 160. Namun pergerakan terbaru telah mengurai sebagian besar posisi long yen yang terbentuk di awal 2025, membawa pasangan itu turun dari sekitar 159 ke 140 dan kembali ke dekat 159.
Koreksi tersebut menegaskan bahwa pasar tetap berreaksi terhadap dinamika imbal hasil JGB jangka panjang dan arah kebijakan fiskal. Banyak analis menyatakan bahwa belum ada konfirmasi puncak untuk imbal hasil JGB 30 tahun maupun untuk level USD/JPY saat ini. Meski begitu, volatilitas tinggi menciptakan peluang bagi trader untuk mengikuti arah breakout jika momentum berlanjut.
Meski mayoritas sedang terpegang di DPR, pemerintah kemungkinan tidak mengejar ekspansi fiskal agresif dalam waktu dekat karena kekhawatiran keberlanjutan utang. Keterbatasan penerbitan obligasi jangka panjang dalam kurva dan fokus kebijakan pada pemulihan kursi LDP meningkatkan argumen untuk fokus pada 'buy on dips' pada JGB jangka panjang dan juga pada yen. Lonjakan harga beberapa hari mendatang bisa menjadi peluang untuk menjual USD/JPY jika tren tersebut berlanjut.
Dinamika ini memberi pedagang peluang untuk menilai setup teknikal jangka pendek di USD/JPY. Dengan harga sekitar 159, banyak analis menyarankan kehati-hatian karena volatilitas bisa kembali melonjak jika data ekonomi Jepang maupun AS memicu pergerakan yang tajam. Namun, runtutan peristiwa politik dan perubahan imbal hasil cenderung menjaga pasangan ini berada dalam rentang yang rapat dalam beberapa sesi.
Jika lonjakan imbal hasil JGB berlanjut, sinyal untuk mengambil posisi jual bisa menguat. Namun para pelaku pasar perlu memperhatikan level resistance dan dukungan sekitar 159 serta potensi pembalikan dari long yen yang tersisa. Rekomendasi manajemen risiko adalah menjaga stop loss di atas level 161,5 dan menargetkan profit di sekitar 153 sebagai kasarnya.
Rekomendasi terhadap open posisi pada skenario ini adalah letakkan entry di 159,00 dengan potensi target 153,00 dan stop di 161,50. Rasio risiko terhadap imbal hasil lebih dari 1:1,5 sehingga asalkan eksekusi mengikuti rambu tersebut, peluang keuntungan bisa terjaga. Karena faktor fundamental dan teknikal beriringan di pasar FX Jepang, pelaku pasar disarankan untuk memantau pernyataan kebijakan dan rilis data ekonomi secara cermat.