Yen tertekan oleh ketidakpastian langkah Bank of Japan (BoJ) dan perdebatan kebijakan yang belum jelas. Pasar terus menimbang sinyal pelonggaran versus pengetatan, sehingga arah kebijakan menjadi salah satu faktor utama pergerakan pasangan USD/JPY. Ketidakpastian ini juga membatasi minat investor terhadap yen sebagai aset safe-haven dalam beberapa sesi terakhir.
Spekulasi bahwa pemilihan mendadak akan dipanggil di Jepang menambah volatilitas jangka pendek. Kemenangan koalisi yang diduga membawa kebijakan stimulus fiskal ekspansif dapat mengubah prospek pertumbuhan dan inflasi domestik, yang pada akhirnya menambah tekanan pada JPY ketika ekspektasi fiskal meningkat. Pasar pun menilai bahwa dinamika politik dapat memperlihatkan arah kebijakan fiskal dalam beberapa kuartal mendatang.
Ketegangan Jepang-Tiongkok serta gangguan pasokan terkait ekspor elemen tanah jarang memperumit risiko rantai pasokan bagi produsen Jepang. Cina sebelumnya melibatkan pembatasan ekspor bahan baku tertentu, meningkatkan kekhawatiran atas aliran modal dan neraca perdagangan Jepang. Sementara itu, pernyataan mengenai independensi BoJ dan sikap hawkish sebagian pejabat menjaga dinamika risiko bagi yen di tengah komuniti investor global.
Kondisi teknikal USD/JPY menunjukkan bias bullish jangka pendek. Harga masih berada di atas moving average 50-hari yang terus meningkat, menandakan momentum kenaikan yang berlanjut. Level sekitar 156,00 berfungsi sebagai dukungan dinamis bagi pembeli yang menjaga tren positif.
Indikator MACD menunjukkan persilangan bullish dekat nol, dengan histogram berubah positif dan momentum membaik. RSI berada di sekitar 67,5, menunjukkan ruang untuk lanjut dalam kenaikan tanpa menunjukkan kondisi jenuh beli. Selama pasangan tetap berada di atas SMA 50-hari, risiko teknikal tetap terkendali dan peluang penguatan tetap ada.
Namun, penutupan harian di bawah SMA yang naik bisa membalikkan momentum dan mengarah pada fase konsolidasi. Para trader juga perlu memperhatikan perubahan arah dolar yang dipengaruhi ekspektasi kebijakan Fed. Rilis data inflasi AS bisa menjadi katalis signifikan bagi pergerakan berikutnya.
Investors menantikan rilis data inflasi konsumen AS (CPI), yang dijadikan kunci arah kebijakan moneter. Angka CPI yang lebih kuat dari estimasi berpotensi menahan langkah pelonggaran Fed, sementara angka lemah bisa memberi ruang bagi pelonggaran lebih lanjut. Dampaknya di pasar valuta asing, termasuk USD/JPY, sangat penting menjelang pembacaan data tersebut.
Isu independensi Federal Reserve menjadi risiko yang membatasi momentum dolar. Berita terkait penyelidikan terhadap pejabat bank sentral dapat meningkatkan volatilitas jangka pendek dan mendorong para trader lebih fokus pada dinamika teknikal. Dalam konteks ini, peran data ekonomi menjadi penentu utama arah pasangan mata uang.
BoJ tetap di jalur normalisasi jika data ekonomi dan harga bergerak sesuai ekspektasi. Beberapa analis menilai potensi pengetatan lebih lanjut tetap terbuka jika tekanan inflasi domestik meningkat, meski fokus kebijakan masih pada pemulihan ekonomi. Pasar menunggu rilis CPI AS untuk memberikan gambaran jelas terhadap arah USD/JPY kedepannya.