USD/JPY telah mundur dari level tertinggi sesi di atas 154,00, namun nada bullish yang moderat tetap terjaga. Perdagangan terakhir menunjukkan pasangan ini berada di sekitar 153.90 ketika laporan terbaru masuk, menandai koreksi singkat setelah lonjakan sebelumnya. Kondisi ini mencerminkan keseimbangan antara proyeksi kenaikan suku bunga AS dan retorika yang relatif hati-hati di Jepang.
Pengumuman bahwa mantan gubernur Federal Reserve, Kevin Warsh, dipilih untuk menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua Fed ketika masa jabatan berakhir memicu respons pasar. Warsh dipandang sebagai figur yang menjaga independensi bank sentral, sehingga risiko kebijakan yang terlalu dovish cenderung berkurang. Reaksi ini secara langsung mendongkrak daya tarik dolar terhadap mitra utamanya.
Di sisi fiskal, informasi bahwa Demokrat dan Republik di Senat telah mencapai kesepakatan mengenai paket belanja menambah keyakinan bahwa penutupan pemerintah berikutnya dapat dihindari, mendongkrak dukungan terhadap dolar. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, juga menegaskan komitmen Washington terhadap kebijakan dolar yang kuat, sambil membantah rumor adanya intervensi terkoordinasi dengan Jepang untuk melemahkan yen.
Perspektif pasar terhadap Warsh sebagai calon Ketua Fed menambah elemen kestabilan pada narasi kebijakan moneter. Penjagaan independensi bank sentral membuat ekspektasi terhadap langkah kebijakan menjadi lebih terukur. Akibatnya, investor menyesuaikan posisi mereka dengan asumsi bahwa kebijakan tetap terkendali di bawah pengawasan lembaga.
Selain itu, laporan bahwa pihak legislatif telah menyelesaikan isu anggaran mengurangi kekhawatiran tentang berhentinya fungsi pemerintahan. Hal itu menambah daya dorong bagi dolar, yang sebelumnya mendapatkan dukungan dari pernyataan pejabat fiskal mengenai kekuatan dolar. Untuk yen sendiri, spekulasi akan intervensi terkoordinasi telah mereda setelah pernyataan Bessent yang menegaskan tidak ada rencana semacam itu.
Meskipun sentimen umum tetap positif bagi dolar, dinamika teknis jangka pendek tetap tergantung pada data ekonomi dan komentar kebijakan terbaru. Pedagang cenderung berhati-hati menimbang potensi kejutan dari pernyataan pejabat bank sentral dan keputusan fiskal yang akan datang. Secara garis besar, dasar teknikal menunjukkan bias kenaikan dalam kerangka risiko yang lebih luas.
Di Jepang, rilis Indeks Harga Konsumen (IHK) Tokyo menunjukkan tekanan harga yang terus mendingin pada bulan Januari. IHK inti turun menuju 2% Bank of Japan dari 2,3% di Desember dan 2,8% di November, sebuah tren disinflasi yang mengurangi tekanan pada bank sentral untuk segera menaikkan suku bunga.
Penurunan tekanan inflasi memberi BoJ lebih banyak ruangan untuk menahan langkah kebijakan yang lebih agresif. Ketidakpastian atas kapan BoJ akan melangkah lebih lanjut menambah volatilitas bagi USD/JPY karena pasar mencoba memetakan reaksi petinggi bank sentral terhadap data inflasi yang berubah.
Secara keseluruhan, dinamika inflasi Tokyo memperkuat narasi bahwa Jepang perlu menjaga kebijakan moneter yang sinkron dengan kondisi fiskal. Pasar terus memantau pernyataan pejabat BoJ dan data harga guna menilai arah kebijakan dan dampaknya terhadap profil risiko pasangan mata uang utama terhadap yen.