USD/JPY berada di sekitar 159.35 pada sesi Asia Kamis, menandai area konsolidasi setelah beberapa hari volatilitas. Pasangan ini menunjukkan volatilitas yang relatif lebih rendah, meski faktor risiko global tetap signifikan. Laporan ini disampaikan oleh Cetro Trading Insight.
Bank of Japan (BoJ) diperkirakan mempertahankan suku bunga pada 0.75% dalam pertemuan April, mencerminkan kehati-hatian terhadap ketidakpastian pelaku ekonomi. Kebijakan ini mencerminkan lingkungan yang masih berat meski tanda-tanda pemulihan terlihat. Pasar juga memantau sinyal lanjutan mengenai arah kebijakan di bulan-bulan mendatang.
Selain itu, pasar menilai peluang kenaikan suku bunga BoJ pada Mei atau Juni sangat bergantung pada data ekonomi yang datang. Beberapa kerumunan pasar masih melihat kemungkinan peningkatan, meskipun ekspektasi tidak kuat. Dalam konteks ini, pergerakan USDJPY bisa sangat dipengaruhi oleh keluarnya data PMI yang akan datang.
Pernyataan Presiden AS terkait perpanjangan gencatan senjata dengan Iran memberikan dampak terhadap arus modal global. Reconciliasi antara kubu-kubu politik membawa risiko berkurang, yang cenderung menekan permintaan terhadap dolar sebagai aset safe-haven. Karena itu, USD melemah terhadap yen dan potensi penurunan USD/JPY tetap terbuka.
Ketegangan di Selat Hormuz menambah ketidakpastian pada perdagangan energi dan likuiditas pasar. Ketidakpastian geopolitik dapat mendorong volatilitas, meski ada upaya menahan eskalasi. Pelaku pasar memantau pernyataan baru terkait insiden di Hormuz yang bisa memicu aksi risk-on atau risk-off.
Pernyataan White House bahwa kapal yang dituduhkan tidak melanggar gencatan menambah kompleksitas diplomatik. Pasar menilai jalur diplomatik tetap berjalan meski ada narasi kontra, sehingga dampak jangka pendek terhadap dolar bisa terbatas. Namun geopolitik tetap menjadi driver utama pergerakan mata uang secara umum.
Rilis PMI S&P Global yang diantisipasi akan menunjukkan kondisi manufaktur dan jasa, memberi petunjuk bagi garis kebijakan BoJ. Data ini memiliki daya dorong signifikan terhadap ekspektasi kebijakan dan aliran modal global. Investor menilai bagaimana angka PMI bisa membentuk sentimen risiko ke depan.
Gubernur BoJ Kazuo Ueda menghindari sinyal kenaikan pada pertemuan April, menyebut isu ketidakpastian akibat "negative supply shock" dari konflik. Keputusan untuk menahan suku bunga telah menjadi bagian dari respons kebijakan yang konsisten. Pasar menunggu klarifikasi lebih lanjut terkait arah kebijakan BoJ ke depan.
Secara umum, konsensus pasar adalah bahwa kebijakan Jepang kemungkinan tetap stabil hingga Juni 2026, meski ada peluang penyesuaian kecil pada Mei. Perubahan kebijakan tampaknya bergantung pada data ekonomi dan dinamika global. Dari sudut pandang teknikal, pergerakan tetap rapuh dan volatilitas jangka pendek bisa meningkat jika PMI mengejutkan.