Menurut laporan Kyodo News, Perdana Menteri Sanae Takaichi berencana membubarkan majelis rendah pada 23 Januari. Hal ini memicu spekulasi tentang pemilihan mendesak pada Februari, sebuah dinamika yang diperhatikan analis FX BBH. Pasar menakar dampaknya terhadap ekspektasi stimulus pemerintah dan aliran modal investor.
Pelaku pasar menilai peluang intervensi Bank of Japan meningkat seiring USD/JPY mendekati 160,00. Meski Takaichi diperkirakan tidak wajib menggelar pemilu hingga 2028, ia bisa memanfaatkan popularitasnya untuk mencoba memperkuat mayoritas partainya di majelis rendah. Ketidakpastian kebijakan fiskal Jepang menambah volatilitas yen dan obligasi JGB.
Analisis menunjukkan perhatian terhadap pemborosan fiskal bisa jadi berlebihan. Pertumbuhan PDB nominal Jepang sekitar 4% disertai indikator terdepan yang menunjukkan prospek membaik. Imbal hasil 10-tahun mendekati 2%, membuka ruang bagi defisit primer untuk tetap terkelola tanpa meningkatkan rasio utang secara signifikan.
Meski ada perdebatan mengenai belanja publik, dinamika riil Jepang menunjukkan fondasi yang lebih kuat daripada yang dibayangkan pasar. Pertumbuhan ekonomi nominal mendekati 4% mengindikasikan kemampuan negara menutup defisit primer tanpa beban utang yang membengkak. Secara struktural, proyeksi fiskal terlihat lebih tahan terhadap tekanan pasar daripada ekspektasi awal.
Dalam konteks pelemahan yen, beberapa pejabat menegaskan keprihatinan terhadap pelemahan berlebih. Menteri Keuangan Satsuki Katayama menekankan kekhawatiran tersebut, dengan dukungan dari pejabat lain. Keidanren juga mengingatkan perlunya koreksi nilai tukar menuju level yang lebih realistis.
Berulang kali BOJ ikut aktif dalam intervensi FX untuk menyeimbangkan yen; dua gelombang pembelian yen dilakukan sejak April–Mei 2024, ketika USD/JPY melonjak. Pembelian mencapai sekitar ¥9,79 triliun setelah lonjakan 5,7% ke 160,17, diikuti tambahan sekitar ¥5,53 triliun pada periode Juni–Juli 2024 setelah yen menguat sekitar 4,2% dan USD/JPY menyentuh 161,95.