USD terpantau stabil di level yang relatif rendah volatilitas, setelah seri indikator makro Amerika menunjukkan gambaran campuran. Pergerakan USD terhadap yen terletak di sekitar level 156,60, dengan volatilitas harian yang minimal. Pasar menimbang jalur penurunan suku bunga yang dijajaki Fed secara bertahap untuk 2026.
PMI Jasa dari Institute for Supply Management naik menjadi 54,4 pada Desember, menandakan momentum sektor jasa yang lebih kuat. Pesanan baru juga meningkat, menambah optimisme akan permintaan di kuartal akhir. Meski demikian, tekanan inflasi terlihat mereda sedikit lewat penurunan Indeks Harga yang Dibayar menjadi 64,3 sehingga volatilitas jangka pendek menurun.
Pasar tenaga kerja menunjukkan nuansa berbeda dengan JOLTS yang turun menjadi 7,14 juta pada November dan ADP yang melaporkan kenaikan gaji swasta sebesar 41 ribu pada Desember, membatasi ekspektasi kenaikan upah yang tajam. Secara keseluruhan data ini membuat pedagang mengadopsi sikap waspada terhadap langkah Fed ke depan dan memperhitungkan jalur penurunan suku bunga secara bertahap pada 2026.
Di Asia, yen sedikit menguat seiring menurunnya selera risiko dan berlangsungnya tekanan defensif di pasar. Eskalasi ketegangan antara China dan Jepang terkait pembatasan ekspor barang dual use menambah permintaan atas aset safe haven. Ketidakpastian regional menambah dukungan bagi yen terhadap greenback.
Gubernur BoJ Kazuho Ueda menegaskan komitmen untuk melanjutkan pengetatan moneter meskipun waktu kenaikan berikutnya masih tidak pasti. Nada kebijakan yang lebih tegas dari BoJ membantu menjaga arah yen tetap positif meski faktor global tetap tidak jelas.
Secara keseluruhan, lingkungan kebijakan dan geopolitik telah membuat USDJPY tetap berada dalam kisaran luas. Pasar menimbang kebijakan moneter AS yang berhati hati terhadap faktor pendukung yen, dengan sentimen risk-off yang masih ada di beberapa kejadian regional.
Pergerakan pasangan ini tampak terjebak dalam kisaran sekitar 156,60, mencerminkan keseimbangan antara pandangan dovish terhadap dolar AS dan kekuatan yen yang lebih defensif. Investor menunggu sinyal lebih jelas terkait langkah Fed dan tindak lanjut kebijakan BoJ untuk menentukan arah jangka pendek.
Analisis teknikal belum memberi sinyal tren kuat karena range trading yang dominan, sementara analisis fundamental menekankan pentingnya data makro mendatang serta perkembangan geopolitik. Rasio risiko imbalan cenderung mendekati 1 banding 1.5 tergantung pada momentum data berikutnya.
Yang bisa diwaspadai adalah potensi breakout jika data makro berikutnya menunjukkan kekuatan ekonomi AS atau perubahan sikap BoJ secara berarti. Skenario base case tetap menahan pergerakan di kisaran saat ini sambil menunggu konfirmasi arah yang lebih jelas dari kebijakan moneter utama.