Harga WTI berada di sekitar $56,05 pada sesi pembukaan perdagangan Eropa. Pernyataan Trump mengenai kesepakatan impor minyak Venezuela menambah sumber tekanan pada harga minyak mentah. Investor menakar bagaimana perubahan pasokan dari Venezuela berpotensi mengubah dinamika pasar di pekan ini.
Trump menyatakan Venezuela setuju memberikan hingga 50 juta barel minyak berkualitas tinggi yang dikenakan sanksi ke AS, sebagai bagian dari negosiasi. Langkah tersebut menambah ketidakpastian mengenai aliran minyak tema. Analitik menilai potensi aliran minyak Venezuela ke pasar bisa memberi tekanan menengah hingga panjang jika terealisasi secara besar.
Di sisi lain, para analis mencatat bahwa langkah-langkah sanksi bisa memicu rebalancing supply di jangka menengah. Meski demikian, harga tetap rapuh di tengah ketidakpastian geopolitik. Investor akan menilai respons pasar terhadap berita Venezuela saat memperhitungkan data ekonomi satelit.
Laporan EIA minggu ini menunjukkan stok minyak mentah AS turun 3,831 juta barel untuk minggu yang berakhir 2 Januari. Penurunan ini datang meskipun para analis sebelumnya memperkirakan penurunan rendah. Data ini menambah sinyal bullish terkait permintaan dan likuiditas pasar.
Konsensus pasar sebelumnya memperkirakan stok akan naik 1,1 juta barel. Namun realisasinya berbalik menjadi penurunan yang lebih besar, menunjukkan permintaan lebih kuat dari perkiraan. Hasil ini memberikan dukungan terbatas pada harga dan mengimbangi tekanan dari berita Venezuela.
Dalam konteks ini, para trader menantikan pergerakan harga setelah rilis data tenaga kerja AS untuk Desember. Serangkaian angka pekerjaan bisa memicu volatilitas jika hasilnya jauh dari ekspektasi. Trader juga mencermati respons dolar terhadap rilis tersebut karena dampaknya terhadap komoditas berdenominasi USD.
Kedepannya, pergerakan WTI akan dipengaruhi oleh rilis data pekerjaan AS dan dinamika kebijakan ekonomi global. Para investor mencoba mengurai keseimbangan antara pasokan Venezuela dan permintaan domestik. Ketidakpastian ini membuat arah jangka pendek sulit diproyeksikan dengan kepastian tinggi.
Jika data pekerjaan melemah, dolar cenderung melemah dan minyak berdenominasi USD bisa menguat karena permintaan di pasar mata uang menjadi lebih rendah. Hal ini bisa mendorong harga minyak ke level yang lebih tinggi dari level sekarang. Namun volatilitas tetap tinggi karena faktor geopolitik dan perubahan kebijakan terkait Venezuela.
Di sisi lain, prilaku para pelaku pasar yang responsif terhadap berita energi dapat memicu pergerakan mendadak pada harga. Investor disarankan memantau berita resmi dan data ekonomi utama untuk menilai peluang trading. Dengan potensi pelonjakan volatilitas, pembaca perlu menjaga manajemen risiko secara ketat.