Analisis Deutsche Bank menyoroti volatilitas tajam pada Brent akibat ketegangan Iran dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz. Para analis menilai bahwa pergerakan harga minyak mentah ini sangat responsif terhadap berita gencatan senjata dan proyeksi aliran perdagangan. Lingkup geopolitik menjadi faktor utama yang membuat sentimen pasar tetap rapuh.
Harga Brent rebound dari penjualan kuat Jumat lalu, tetapi tetap sensitif terhadap headline gencatan dan probabilitas terjadinya pengiriman melalui rute utama. Gelombang fluktuasi ini menandai kehati-hatian pasar ketika berita tentang penyelesaian konflik menjadi lebih optimis, meskipun dampaknya belum pasti.
Di tengah optimisme tersebut, para analis memperingatkan bahwa optimisme soal penyelesaian konflik dan harga energi bisa rapuh. Media kami, Cetro Trading Insight, menyimpulkan bahwa dinamika pasokan dan risiko geopolitik tetap menjadi parameter utama yang harus diperhatikan investor minyak.
Pada akhir pekan, Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz akan dibuka untuk sisa masa gencatan, menambah keyakinan sementara pasar. Namun rilis kemudian membalikkan pernyataan itu dalam waktu singkat, dan aliran minyak mengalami volatilitas lagi saat kapal-kapal berhenti berlayar. Dampaknya terhadap arus minyak cukup besar karena jalur utama perdagangan menjadi tidak pasti.
Ketegangan tersebut berkontribusi pada pergerakan harga Brent yang turun sebesar -5.06% pada hari sebelumnya, dengan penurunan -9.07% pada Jumat. Namun tekanan geopolitik akhirnya memicu pembalikan arah, membawa harga ke level sekitar $95 per barel pada perdagangan pagi ini. Investor tetap menimbang probabilitas normalisasi jalur transportasi terhadap prospek pasokan global.
Polanya menunjukkan bahwa probabilitas normalisasi rute pelayaran telah turun menjadi sekitar 63% dari puncaknya di sekitar 84%, menandakan bahwa risiko logistik tetap tinggi. Hal ini menyiratkan bahwa pasar masih rentan terhadap kejadian tak terduga di area teluk, yang bisa menopang tekanan ke atas harga minyak ke depan.
Harga Brent saat ini berada di sekitar $95.45 per barel setelah rebound dua arah, mencerminkan volatilitas yang selama ini menjadi ciri utama pasar energi. Dalam konteks ini, analisis kami menilai bahwa ketegangan geopolitik berpotensi memicu pengetatan pasokan lebih lanjut, yang bisa mendorong harga lebih tinggi. Keputusan investasi perlu mempertimbangkan arah berita geopolitik yang masih dinamis.
Analisis fundamental menyoroti risiko geopolitik sebagai driver utama, sementara analisis teknikal bisa menunjukkan level resistance dan peluang breakout. Pasar tampak menilai bahwa hambatan pasokan bisa melebihi ekspektasi jika ketegangan berlanjut, sehingga fokus investor tertuju pada berita terkait pelayaran dan sanksi. Walau begitu, volatilitas tetap tinggi sehingga manajemen risiko diperlukan.
Dalam laporan ini, Cetro Trading Insight menekankan bahwa situasi saat ini membawa peluang bagi trader yang siap mengatur insiden risiko. Sinyal trading ini adalah BUY dengan target profit 97.50 dan stop loss 94.45, sesuai risiko 1:1.5 minimal, sebagai gambaran skenario. Perlu diingat bahwa struktur pasar bisa berubah dengan cepat dan investor harus mengikuti update berita serta indikator teknikal.