
Menurut Maartje Wijffelaars, Senior Economist dari Rabobank, pasar minyak Brent menunjukkan volatilitas yang sangat tinggi akibat dinamika geopolitik yang sedang berubah. Setiap pernyataan dari Washington mengenai hasil konflik memicu reaksi cepat dari pelaku pasar, membuat arah harga sulit dipastikan. Ketidakpastian semacam itu mempertegas tantangan analisis fundamental dalam konteks pasar energi global.
Di samping sentimen geopolitik, likuiditas pasar dinilai tipis sehingga pergerakan harga bisa melebar lebih jauh dari biasanya. Banyak pelaku mengurangi eksposur, sehingga dominasi perdagangan menjadi lebih sering dilakukan oleh algoritme dan produsen minyak daripada investor institusional yang likuid. Kondisi ini memperbesar kemungkinan volatilitas harga Brent untuk periode mendatang.
Secara harga, Brent sempat turun ke sekitar $93 per barel lalu menyerbu ke atas $102,9 akibat kembalinya ekspektasi resolusi. Pada saat penulisan, kontrak Brent diperdagangkan sekitar $100,2 per barel, sementara para ahli energi menyebut pergerakan ini cenderung premature dan berisiko berubah arah dengan cepat.
Situasi likuiditas yang rendah membuat pasar sangat responsif terhadap berita baru, karena sebagian besar pelaku pasar menahan risiko. Akibatnya, harga dapat bergerak tajam dalam lonjakan sesaat setelah rilis kabar fiskal maupun diplomatik. Di sisi lain, keberadaan perdagangan algoritmik menambah frekuensi transaksi dan memperbesar spektrum pergerakan harga dalam waktu singkat.
Perubahan dinamika harga dipicu oleh interpretasi kebijakan AS terkait perang dan upaya meredakan ketegangan, termasuk potensi langkah strategis terhadap Hormuz. Investor menimbang sinyal-sinyal dari Gedung Putih, otoritas regional, dan respons mitra dagang sebagai penentu arah jangka pendek. Hal ini membuat analisis teknikal pun menjadi lebih menantang karena sinyal sering bersilangan.
Menurut laporan Reuters, aktivitas perdagangan yang mencurigakan sebelum pengumuman mengenai pelonggaran ketegangan meningkat secara signifikan, mencapai sekitar $7 miliar pada Maret–April. Fenomena tersebut menambah unsur risiko dan ketidakpastian di pasar minyak. Investor disarankan untuk menilai risiko secara hati-hati dan menjaga eksposur sesuai toleransi risiko mereka.
Kebijakan serta eskalasi antara Amerika Serikat, Iran, UAE, dan sekutu terkait mempengaruhi prospek aliran minyak melalui jalur utama seperti Hormuz. Ketidakpastian atas arah diplomatik meningkatkan risiko gangguan pasokan yang bisa mendorong volatilitas lebih lanjut. Pasar menilai bahwa faktor geopolitik akan tetap menjadi hambatan utama bagi stabilitas harga minyak dalam beberapa kuartal ke depan.
Di sisi instruksi, pernyataan Trump bahwa sebuah kesepakatan bisa dicapai segera diiringi ancaman jika Iran menolak proposal AS menambah ketegangan. Berbagai langkah seperti otoritas transit Hormuz dan opsi untuk mengerahkan perlindungan kapal meningkatkan kompleksitas risiko pasokan. Investor memperhatikan kemungkinan langkah-langkah pembatasan akses yang dapat mengurangi aliran minyak di rute utama.
Konsensus analis masih menimbang arah pasokan di masa depan dan potensi gangguan. Investor diminta waspada dan mengikuti pembaruan diplomatik untuk menilai arah pergerakan harga. Penilaian ini menggabungkan data pasar, pernyataan otoritas, dan dinamika geopolitik. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight.