Deutsche Bank strategists menyoroti volatilitas tajam pada harga Brent minyak seiring keraguan atas gencatan senjata di Timur Tengah. Harga Brent sempat tertekan lebih dari 13% menuju sekitar $95 per barel sebelum akhirnya rebound melewati $96 karena optimisme terkait kelanjutan negosiasi.
Analisis menunjukkan pergerakan yang lebih dramatis pada pasar spot dibandingkan kontrak berjangka yang lebih jauh pada kurva. Sementara itu, kekhawatiran soal kelanjutan deeskalasi dan potensi gangguan pengiriman membuat trader berhati-hati meskipun sinyal positif sempat muncul.
Di pagi hari ini, harga minyak mencoba menguat lagi meskipun volatilitas tetap tinggi. Brent naik sekitar 2% menjadi sekitar $96.97/bbl, namun momentum rally semalam telah berkurang. Secara keseluruhan, level saat ini masih di bawah harga pra-gencatan sekitar $110/bbl, menandakan pasar belum sepenuhnya menafsirkan dampak berita.
Kendati ada optimisme, pembukaan kembali jalur Hormuz menjadi faktor kunci bagi pergerakan harga, dengan Brent turun sekitar 13,29% ke $94.75/bbl pada sesi terendah empat minggu. Sementara itu, WTI anjlok sekitar 16,41% ke $94.41/bbl, menunjukkan respons besar terhadap ketidakpastian pasokan di wilayah strategis.
Namun, penurunan di bagian kurva lebih jauh tetap moderat karena pembatasan pengiriman masih berlaku. Brent futures untuk enam bulan turun sekitar 2.33% dan ditutup di $81.19/bbl, menggambarkan depresiasi yang lebih terbatas pada jangka menengah.
Seiring berjalannya pagi, harga kembali merangkak naik sekitar 2.34% menjadi $96.97/bbl, mencerminkan bahwa sentimen pasar tetap rapuh namun ada ketertarikan pada peluang de‑eskalasi meskipun rintangan di Hormuz tetap ada.
Volatilitas pasar minyak tetap menjadi ciri utama bagi pelaku pasar, menuntut manajemen risiko yang lebih disiplin dan pemantauan ketat terhadap faktor geopolitik serta aliran perdagangan.
Meskipun ada tanda-tanda de‑escalation yang bisa meningkatkan optimisme, ketidakpastian mengenai durasi dan kelanjutan gencatan menjaga momentum naik turun. Hal ini menuntut pendekatan waspada bagi investor yang memandang peluang jangka pendek maupun jangka menengah.
Bagi trader, fokus utama adalah menjaga rasio risiko-imbalan minimal 1:1.5, dengan memperhatikan data arus pengiriman serta indikator fundamental untuk membuat keputusan yang lebih terukur dan terinformasi.