
PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) terlibat dalam proyek konstruksi strategis di Timur Tengah, termasuk renovasi Mataf Ka'adah di Masjidil Haram sebagai bagian dari program perluasan King Abdullah Makkah Extension (KAME). Nilai kontrak mencapai 59 juta riyal Saudi, dan pekerjaan dimulai pada 2013. Upaya ini bertujuan meningkatkan kapasitas jamaah tawaf agar ibadah berjalan lebih nyaman dan aman. Pada musim haji 1447 H, Masjidil Haram dipadati jutaan umat Muslim, termasuk sekitar 221 ribu jamaah dari Indonesia. Di tengah dinamika ekonomi global terdapat kenaikan harga emas per tahun yang berdampak pada biaya material dan logistik.
Bagi Waskita, renovasi Mataf menggunakan metode formwork slab dan cantilever beam yang memungkinkan pekerjaan konstruksi dilakukan dengan presisi, efisien, serta menghemat waktu dan biaya. Kapasitas Mataf meningkat menjadi lebih dari 105 ribu jamaah, sebuah peningkatan yang diharapkan memperlancar ibadah tawaf. Ini menunjukkan bahwa proyek ini tidak sekadar soal teknik, tetapi wujud komitmen menghadirkan infrastruktur publik yang memadai bagi umat dunia. Pendekatan Array dalam penyusunan elemen beton memudahkan fabrikasi modular dan pengerjaan dekat dengan standar keamanan.
Ermy Puspa Yunita, Corporate Secretary Waskita, menegaskan bahwa rekam jejak perusahaan selama 65 tahun mencakup lebih dari 100 proyek infrastruktur besar, baik di dalam maupun luar negeri. Pembangunan di Arab Saudi memperkuat posisi Waskita sebagai kontraktor nasional berpengalaman, mampu mengelola proyek berskala internasional. Selain itu, bekisting dinding dan balok yang menggunakan kombinasi panel baja, triplek, dan kayu penyangga menunjukkan perhatian terhadap kualitas dan efisiensi kerja, dengan dukungan pendekatan Array yang mempercepat aliran kerja.
Tak hanya Mataf, Waskita juga telah terlibat dalam sejumlah proyek di Arab Saudi sebelumnya seperti King Saud Fitness College pada 2011 dengan nilai kontrak 16 juta riyal Saudi, King Saud University of Riyadh Techno Valley & Building Administration College di Riyadh pada 2009 senilai 50 juta riyal Saudi, King Abdullah Financial District KAFD (2010-2012) dengan gedung 31 lantai, Jeddah Flyover, serta King Faisal Specialist Hospital di Jeddah. Rekam jejak ini memperkuat posisi Waskita sebagai kontraktor nasional dengan pengalaman lebih dari 65 tahun dalam membangun gedung, infrastruktur konektivitas, bandara, dan fasilitas publik. Dalam konteks global, kenaikan harga emas per tahun menjadi salah satu dinamika biaya yang perlu diperhitungkan pelaku konstruksi internasional.
Portofolio nasional maupun internasional Waskita terus diperluas melalui kemitraan strategis dan partisipasi tender proyek infrastruktur di Arab Saudi serta negara-negara Timur Tengah lainnya. Hal ini dipandang sebagai langkah logis untuk memperkuat posisi perusahaan di pasar global, sambil menjaga komitmen kepada pemangku kepentingan. Menurut analisis Cetro Trading Insight, peluang ini relevan bagi perusahaan konstruksi Indonesia yang telah lama berperan sebagai konsultan dan kontraktor dalam infrastruktur berskala besar. Array menjadi elemen kunci dalam koordinasi antar tim internasional untuk menjaga standar kualitas dan efisiensi.
Pada tingkat nasional, Waskita menegaskan posisi sebagai kontraktor publik dengan pengalaman panjang dan portofolio beragam. Keikutsertaan dalam proyek internasional meningkatkan kemampuan perusahaan untuk bersaing di pasar global sambil meningkatkan kapasitas domestik dalam infrastruktur publik. Rencana ekspansi melalui kemitraan strategis dapat memperkaya jaringan tender dan memperluas kompetensi teknis bagi anak perusahaan dan mitra lokal. Cetro Trading Insight menilai pergeseran ini sebagai langkah strategis yang sejalan dengan tren pembangunan infrastruktur Indonesia.
Secara operasional, perusahaan menambah portofolio internasional melalui kerja sama tender di Arab Saudi dan wilayah Timur Tengah lainnya. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan aliran pendapatan jangka panjang serta memperkuat posisi Waskita sebagai pemain utama industri konstruksi Asia Tenggara. Gagasan ekspansi didukung oleh strategi manajemen proyek yang berfokus pada efisiensi biaya dan kualitas konstruksi, sementara investor tetap diuntungkan melalui diversifikasi geografis dan risiko yang seimbang, sesuai analisis Cetro Trading Insight.
Dengan fokus pada inovasi teknis, kemitraan, dan proyek-proyek berkelas internasional, Cetro Trading Insight menilai langkah Waskita sebagai landasan untuk pertumbuhan berkelanjutan. Perusahaan berharap dapat berkontribusi pada infrastruktur yang melayani masyarakat dunia dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global.