WTI turun tipis setelah lonjakan lebih dari sembilan persen pada sesi sebelumnya, dan berada di dekat level 95,20 dolar AS per barel pada jam perdagangan Asia. Pemerintah Australia mengumumkan rencana melepas cadangan bahan bakar hingga 762 juta liter untuk mengatasi gangguan pasokan terkait konflik dengan Iran. Kebijakan ini juga melonggarkan persyaratan stok nasional hingga sekitar 20 persen, demi menstabilkan pasokan domestik.
Menteri Energi Australia, Chris Bowen, menegaskan langkah ini bertujuan menambah supply dan mengurangi kekhawatiran kekurangan pasokan. Meskipun demikian, reaksi pasar minyak bisa tetap bergejolak karena potensi gangguan lebih lanjut akibat penutupan Selat Hormuz. Pasar terus memantau langkah-langkah kebijakan negeri lain maupun eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah.
Analisis risiko menyatakan Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar seperlima konsumsi minyak global, tetap menjadi jalur maritim paling kritis. Penutupan atau gangguan pada jalur tersebut bisa memperketat pasokan secara cepat dan memicu lonjakan harga. Oleh karena itu, volatilitas harga minyak berpotensi meningkat jika ketegangan geopolitik berlarut.
Selat Hormuz menampung sekitar seperlima konsumsi minyak global, membuat jalur perairan ini sangat penting bagi stabilitas harga. Perkembangan terbaru menunjukkan eskalasi ketegangan antara AS, Israel, dan Iran berpotensi mengganggu laju kapal minyak melalui jalur strategis itu. Mojtaba Khamenei, pemimpin baru Iran, mengajukan penggunaan penutupan Selat sebagai alat tekanan terhadap musuh.
Beberapa pihak menilai eskalasi militer meningkatkan risiko gangguan pasokan, sehingga pasar minyak cenderung lebih reaktif terhadap berita geopolitik. IOC atau organisasi energi memperingatkan bahwa konflik ini bisa menciptakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global. Sinyal ini mendorong premi risiko pada harga minyak dan memicu volatilitas di berbagai kontrak berjangka.
Untuk trader, dinamika ini menuntut fokus pada indikator geopolitik, aliran data inventori, serta perubahan kebijakan terkait stok dan impor. Dalam situasi seperti ini, penentuan arah harga menjadi lebih kompleks karena faktor eksternal tidak selalu konsisten dengan rilis fundamental konvensional. Oleh karena itu, manajemen risiko menjadi kunci utama, terutama terkait leverage dan ukuran posisi.
Harga minyak berada di kisaran 95 dolar AS per barel pada periode perdagangan Asia, menandai peningkatan jika terjadi penutupan Hormuz. Peluang kenaikan masih terbuka jika jalur perdagangan terhambat lebih lanjut, meskipun langkah Australia memberi ruang bagi stabilisasi pasokan jangka pendek. Pasar menilai bahwa kendaraan kebijakan nasional dan dinamika geopolitik akan beriringan membentuk tren harga mendatang.
Untuk strategi perdagangan, para pelaku pasar perlu menimbang risiko geopolitik terhadap ekspektasi penawaran. Rencana pelepasan cadangan oleh Australia bisa meredam tekanan harga dalam jangka pendek, namun ketegangan regional dapat mengubah sentimen secara tajam. Oleh karena itu, alokasi posisi, penggunaan stop loss, dan peninjauan ulang target keuntungan menjadi bagian penting dari rencana manajemen risiko.
Secara garis besar, pasar minyak tetap rentan terhadap berita geopolitik sekaligus respons kebijakan negara produsen. Sentimen investor akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik di wilayah tersebut serta laporan berkelanjutan mengenai tingkat pembukaan jalur perdagangan. Investor disarankan mengikuti pembaruan berita dan data inventori secara berkala untuk mengantisipasi perubahan tren harga.