
Ekonom Senior ING, Min Joo Kang, mencatat inflasi Korea Selatan meningkat pada April karena harga energi yang lebih tinggi. Namun, langkah-langkah pemerintah seperti voucher makanan, pembatasan harga bensin, dan pembekuan tarif utilitas membantu membatasi kenaikan. Kebijakan ini dinilai berperan sebagai penyangga terhadap tekanan biaya yang bisa menaikkan inflasi secara berkelanjutan.
Inflasi inti tetap berada di sekitar 2%, meskipun inflasi headline diperkirakan naik menuju sekitar 3% pada Juni. Analisis menunjukkan bahwa tekanan harga utama lebih banyak berasal dari sisi biaya energi daripada makanan, sehingga dinamika energi menjadi fokus utama kebijakan. Para analis menilai bahwa dinamika ini menuntut kewaspadaan berkelanjutan dari kebijakan fiskal dan moneter.
Secara keseluruhan, kontribusi energi terhadap inflasi meningkat, dengan harga minyak dan petroleum naik 21,9% secara YoY. Pembatasan harga minyak dan pembekuan tarif utilitas membantu menjaga laju kenaikan tetap terkendali dibanding negara lain. Ke depan, tingkat inflasi diperkirakan akan membaik secara bertahap meskipun dukungan kebijakan tetap ada.
Inflasi inti, yang tidak memperhitungkan makanan dan energi, tetap di sekitar 2,2% untuk bulan kedua berturut-turut. Angka ini menunjukkan tekanan harga inti masih cukup kuat meskipun ada langkah-langkah perlindungan kebijakan. Faktor-faktor input seperti energi menjadi penggerak utama pergerakan harga secara umum.
Harga minyak dan produk minyak menjadi kontributor utama, menambah sekitar 0,84 poin persentase pada laju inflasi YoY. Perkembangan ini menyoroti volatilitas harga energi sebagai faktor penentu lintasan inflasi di masa mendatang. Sisi lain, biaya transportasi juga bergerak seiring dengan dinamika harga energi global.
Di sisi jasa, harga sewa mengalami kenaikan sekitar 1,0%, mencerminkan perlahan-lahan peningkatan pasar perumahan meskipun sistem Jeonse membuat pergerakan harga sewa tidak secepat tadi. Kondisi perumahan tetap menjadi bagian penting dari dinamika inflasi inti, meskipun volatilitas energi tetap menjadi faktor utama volatilitas harga.
Melihat ke depan, inflasi diperkirakan tetap berisiko naik meskipun ada dukungan kebijakan. Beberapa analis memperkirakan inflasi bisa mendekati kisaran 3% pada bulan Juni, sehingga perhatian pada ekspektasi inflasi tetap penting. Dalam konteks ini, laporan menyebutkan bahwa keputusan kebijakan akan disesuaikan dengan perkembangan harga dan risiko bagi perekonomian.
Bank of Korea (BoK) menekankan fokus untuk menahan ekspektasi inflasi dan mengarahkan jalur kebijakan secara bertahap. Jalur kenaikan suku bunga diprediksi berlangsung secara bertahap untuk menjaga pertumbuhan sambil membatasi tekanan harga. Para pelaku pasar perlu memantau dinamika kebijakan moneter terkait inflasi dan stabilitas nilai tukar.
Proyeksi menunjukkan total kenaikan suku bunga sekitar 50 basis poin pada paruh kedua 2026, dengan kemungkinan kenaikan di Juli lebih besar daripada Mei. Jika jalur ini terwujud, respons pasar terhadap pasangan USDKRW bisa berubah secara signifikan. Artikel ini disusun oleh Cetro Trading Insight.