
Analisis pasar minyak WTI menunjukkan tekanan jual yang berlanjut seiring penutupan aktivitas CTA, meskipun aliran minyak melalui Selat Hormuz tetap tinggi. Analis menilai keseimbangan pasar semakin menipis dan sentimen bearish lebih kuat dalam jangka pendek. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk membantu pembaca memahami dinamika harga minyak dengan bahasa yang mudah dipahami.
Data terbaru menunjukkan aliran keluar melalui Hormuz sekitar 6–6,5 juta barel per hari dalam dua pekan terakhir, memperkuat nada pesimis di pasar. Iran kini menyumbang hampir separuh aliran Hormuz, sementara minyak di perairan teluk menurun tajam. Dengan sisa sekitar 40 juta barel minyak mengapung, para analis memperkirakan arus bisa menurun lebih lanjut dalam beberapa hari mendatang.
Inventori global terus mengalami penyusutan meski permintaan tetap kuat, dan spread produk tetap impresif. Kebijakan cadangan strategis (SPR) serta ekspor AS diperkirakan melambat menuju Juli, menambah tekanan pada pasokan. Di sisi permintaan, refiners terus melaju dengan kapasitas operasional tinggi, menjaga dinamika harga tetap rapuh.
Fokus pasar telah bergeser pada dinamika aliran Hormuz dan dampaknya terhadap pasokan regional. Iran kini memberikan kontribusi signifikan terhadap transits Hormuz, menambah risiko geopolitik bagi harga minyak. Penurunan minyak di permukaan air Teluk Mideast juga terlihat tajam dalam beberapa pekan terakhir.
Dengan keseimbangan pasar yang semakin ketat, perubahan aliran dan produksi global bisa terjadi dalam waktu dekat. Pelaku pasar memantau kebijakan produksi, perubahan ekspor, serta sentimen permintaan sebagai pemicu pergerakan harga jangka pendek. Meski faktor geopolitik menambah ketidakpastian, pola permintaan tetap terlihat cukup kuat.
Spread produk seperti cracking spreads tetap menunjukkan kekuatan relatif karena refiners berjalan pada kapasitas tinggi. Ketatnya pasokan membuat volatilitas harga lebih tinggi meski permintaan masih solid. Cetro Trading Insight menilai fokus pasar kini berada pada perubahan aliran dan dampaknya terhadap biaya produksi kilang.
Inventori global terus menunjukkan laju penarikan yang kuat, dengan arus SPR dan ekspor AS yang diperkirakan melambat menjelang Juli. Penarikan stok eks-AS bisa mempercepat tekanan ke bawah jika arus pasokan tidak kembali normal. Pasar memonitor dinamika tersebut untuk menentukan arah harga di minggu-minggu mendatang.
Crack spreads untuk produk minyak tetap kuat, mencerminkan kebutuhan end-user yang stabil meski volatilitas pasar meningkat. Permintaan domestik dan ekspor global terus menjadi motor utama pergerakan harga minyak. Gelombang aliran minyak melalui Hormuz menjadi variabel kunci yang akan menguji kestabilan pasar di periode mendatang.
Secara keseluruhan, pasar minyak berada dalam fase evaluasi antara faktor teknikal dan fundament. Pelaku pasar disarankan memantau aliran Hormuz, kebijakan produksi, dan perkembangan inventori sebagai petunjuk arah harga. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk memberikan gambaran jelas mengenai potensi peluang trading dengan manajemen risiko yang tepat.