Harga minyak mentah WTI turun mendekati US$64 pada pembukaan sesi Eropa, tertekan oleh kekhawatiran pasokan berlebih dan kekuatan dolar AS. Para pelaku pasar juga menilai bahwa output global tetap meningkat meskipun ada upaya pembatasan produksi. Analisis teknis dan fundamental menunjukkan bahwa dinamika stok menjadi faktor utama dalam pergerakan harga saat ini.
Catatan utama adalah produksi minyak mentah global melampaui konsumsi sepanjang 2025, sehingga inventori mengalami kenaikan yang signifikan. Kondisi tersebut menambah tekanan penurunan harga ketika permintaan tidak cukup kuat untuk menyerap pasokan yang melonjak. Para analis mengamati pola pasokan yang tetap tinggi meskipun beberapa negara berupaya memperlambat output.
Sementara itu, proyeksi jangka menengah dari IEA menunjukkan surplus yang substansial akan bertahan hingga 2026, dengan kelebihan rata-rata lebih dari 3,7 juta barel per hari. Ketidakseimbangan pasokan ini menjadi letak utama risiko bagi harga minyak mentah. Skenario geopolitik juga bisa memperpanjang durasi tekanan atau volatilitas harga tergantung pada dinamika regional.
Kekuatan dolar AS menambah beban pada komoditas berdenominasi dolar, termasuk minyak mentah. Ketika nilai tukar dolar menguat, harga relatif minyak cenderung melemah karena biaya bagi pembeli internasional meningkat. Hal ini memperlebar jurang antara biaya produksi dan pendapatan penjualan di pasar global.
Pemantau pasar juga memperhatikan pergerakan dolar setelah laporan bahwa pihak berwenang meneken kesepakatan pendanaan pemerintah. Penawaran dolar yang lebih kuat berpotensi memperhebat tekanan pada komoditas berdenominasi USD. Investor menunggu arah kebijakan fiskal dan respons pasar terhadap berita tersebut.
Di sisi lain, dinamika politik dalam negeri AS, termasuk komentar pejabat seperti Presiden yang menimbang opsi militer, meningkatkan volatilitas. Banyak analis menilai bahwa ketidakpastian kebijakan dapat membatasi pergerakan tajam harga minyak dalam jangka pendek. Penguatan dolar bisa memicu pergeseran alokasi modal di sektor komoditas secara luas.
Ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, produsen minyak utama di kawasan Timur Tengah, dapat mengangkat harga minyak dalam jangka pendek jika konflik intens. Meski demikian, lesunya surplus pasokan global dan dominasi stok menahan penurunan tajam dalam jangka lebih panjang. Pasar memantau setiap sinyal geopolitik dengan saksama.
Pernyataan dari pihak berwenang AS bahwa operasi militer bisa dilakukan jika diperlukan menambah risiko gangguan pasokan. Ancaman tersebut cenderung meningkatkan volatilitas harga minyak di tengah ketidakpastian regional. Namun, proyeksi jangka menengah masih berat ke arah surplus karena dinamika produksi yang terus berjalan.
Respon Iran terhadap tekanan internasional juga berperan menentukan arah pergerakan harga. Meski ada ancaman tindakan balasan, faktor fundamental seperti kelebihan pasokan global tetap menjadi faktor penentu utama. Investor disarankan menilai skenario base case yang lebih luas terkait volatilitas pasar energi.