Pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat akan berlangsung di Oman pada hari Jumat, sebuah langkah yang dilaporkan Menteri Luar Negeri Iran dan dikonfirmasi pejabat Gedung Putih. Langkah tersebut menurunkan kekhawatiran terjadinya gangguan pasokan minyak di wilayah Timur Tengah meski agenda negosiasi masih terbatas pada program nuklir. Para analis mencatat bahwa ruang lingkup perundingan masih belum disepakati sehingga pasar tetap waspada terhadap perubahan signifikan.
Harga minyak WTI melemah setelah dua hari mengalami kenaikan dan diperdagangkan sekitar 63,50 dolar AS per barel pada sesi Asia. Reaksi pasar dipicu oleh adanya dorongan optimisme sekaligus kekhawatiran seputar pembicaraan dengan AS. Meski ada laporan media mengenai potensi kegagalan negosiasi, pejabat dari kedua pihak kemudian menyatakan diskusi akan berjalan sesuai jadwal meskipun agenda belum disepakati.
Di samping dinamika geopolitik, dolar AS yang lebih kuat juga menambah tekanan pada harga komoditas berdenominasi USD. Gubernur Federal Reserve Lisa Cook menegaskan dia tidak akan mendukung pelonggaran lebih lanjut tanpa bukti jelas bahwa inflasi mulai mendingin. Hal ini menambah tekanan pada arah pergerakan harga minyak meskipun ada faktor pendukung dari sisi fundamental pasokan.
Data dari Energy Information Administration menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun 3,455 juta barel pada minggu terakhir, melebihi penurunan sekitar 2 juta barel yang diproyeksikan para analis. Penurunan ini terjadi meski badai musim dingin mengganggu operasional rantai pasokan. Angka penurunan yang lebih besar dari ekspektasi ini memberi dukungan bagi sentimen bullish di pasar minyak.
Faktor teknis dan permintaan domestik juga menjadi pertimbangan, meski sentimen geopolitik membentuk arah jangka pendek. Pasar menilai bahwa penurunan persediaan bisa mendukung harga, tetapi volatilitas tetap tinggi karena dinamika program nuklir Iran dan kebijakan moneter AS.
Secara keseluruhan, data persediaan menambah fondasi untuk kemungkinan pergerakan harga yang lebih tinggi, meskipun risiko geopolitik dan kebijakan moneter membatasi reli yang pasti. Investor sebaiknya mengikuti pembaruan data EIA dan komentar kebijakan untuk konfirmasi tren. Penilaian lebih lanjut sebaiknya didasarkan pada konfirmasi teknis dan berita terbaru.
Kekuatan dolar AS menambah beban pada harga minyak karena komoditas berdenominasi USD cenderung melemah ketika dolar menguat. Sinyal hawkish dari Federal Reserve menambah tekanan pada volatilitas harga energi. Investor menilai bahwa jalur kebijakan suku bunga yang lebih ketat dapat memperlambat pemulihan permintaan minyak.
Laporan EIA tentang penurunan persediaan minyak AS memberi dukungan terhadap sisi fondamental, tetapi gejolak politik dan berita terkait pembicaraan Iran-AS tetap menjadi faktor penentu arah jangka pendek. Pasar minyak tetap sensitif terhadap perubahan informasi seputar pasokan dan geopolitik yang bisa mengubah persepsi pasokan global.
Dengan volatilitas yang masih tinggi, rekomendasi trading disesuaikan dengan kehati-hatian. Konfirmasi tren menggunakan data input terbaru sangat dianjurkan sebelum membuka posisi. Para investor disarankan menilai risiko secara cermat karena dinamika pasar energi dapat berubah secara cepat.