Harga minyak mentah WTI melonjak melewati $110 pada jam Asia karena kekhawatiran penutupan Selat Hormuz. Ketegangan tersebut mendorong negosiasi produksi di Irak, Kuwait, dan Saudi Arabia untuk memangkas pasokan. Sinyal pasar menunjukkan bahwa volatilitas telah meningkat dan risiko gangguan pasokan global tetap tinggi.
Meski momentum kenaikan sempat memuncak, sesi perdagangan berikutnya ditandai dengan aksi profit-taking yang menarik harga kembali mendekati $93.00. Harga sempat naik ke atas $113.00 sebelum berbalik, menandakan volatilitas ekstrem di pasar minyak. Perkembangan ini menyoroti keseimbangan antara gangguan pasokan dan aksi untung di tengah ketidakpastian geopolitik.
Meski koreksi, tren utama tetap bullish karena harga mempertahankan diri di atas penutupan pekan sebelumnya, mencatat salah satu lonjakan mingguan terbesar dalam sejarah WTI. Perkembangan seperti penutupan Hormuz dan pemangkasan produksi memperkuat pandangan bahwa permintaan bisa tetap kuat meskipun volatilitas tinggi. Goldman Sachs memperingatkan bahwa jika gangguan berlangsung lebih dari 30 hari, harga minyak bisa melompat ke kisaran $140–$150 per barel.
Dinamika harga minyak juga dipicu oleh rilis data makro AS yang akan datang, termasuk CPI Februari yang diprediksi dipengaruhi oleh tekanan harga energi. Laju inflasi inti Januari mencapai 2,4% secara tahunan, dan lonjakan biaya energi sejak akhir Februari berpotensi mendorong pembacaan berikutnya. Sinyal pasar juga dipengaruhi oleh laporan inventori EIA yang menunjukkan perubahan pasokan minyak yang bisa memicu volatilitas lebih lanjut.
Di sisi produksi, Iraq, Kuwait, dan Saudi memangkas output sebagai bagian dari upaya mengelola persediaan, sementara Gulf storage mendekati kapasitas maksimal. Kebijakan energi regional menambah risiko fiskal bagi stabilitas harga jangka pendek dan menegaskan pentingnya pemantauan data persediaan dan permintaan global. Investor akan menilai bagaimana dinamika geopolitik membantu atau menahan laju pemulihan harga minyak.
Secara teknikal, arah jangka pendek didorong oleh harga yang bertahan di atas cluster EMA 50 dan EMA 200 yang sedang naik. Rintangan penting berada di sekitar $95, dengan rute ke sekitar $98–$100 jika breakout berlanjut. Dukungan utama berada di sekitar $88.50, membatasi koreksi dan menjaga kerangka uptrend tetap utuh.
Posisi WTI pada grafik harian menunjukkan bias naik karena harga sekitar $93.15 dan berada di atas EMA 50 serta EMA 200 yang keduanya cenderung naik. Indikator Stochastic berada di wilayah overbought, menandakan momentum yang kuat namun juga memberi ruang untuk koreksi teknikal singkat. Analisis ini disusun dengan dukungan dari data pasar yang disediakan oleh Cetro Trading Insight.
Rintangan utama berada di sekitar $95, dan jika harga berhasil menembusnya, target berikutnya berada di kisaran $98–$100. Breakout yang berkelanjutan bisa membawa harga lebih tinggi dalam beberapa sesi. Namun momentum akan tetap terjaga asalkan harga tidak turun terlalu jauh.
Rencana perdagangan yang disarankan adalah membeli pada sekitar $93.15, dengan stop loss di $90.50 dan target keuntungan di $100. Favorable risk-reward tercapai sekitar 1:2.6, sehingga peluang upside tampak menarik jika konfirmasi breakout terjadi.