Harga minyak WTI menguat untuk hari ketiga berturut-turut karena ketidakpastian pasokan global meningkat menyusul pembicaraan AS-Iran yang mandek dan Hormuz yang tetap hampir tertutup. Pelaku pasar memantau dinamika geopolitik di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur kunci pengiriman minyak. Lonjakan ketidakpastian ini menambah tekanan pada harga minyak secara umum.
Washington meningkatkan tekanan pada Iran melalui langkah kebijakan yang lebih tegas, termasuk kemungkinan sanksi terhadap refiners China yang terkait dengan Tehran dan terhadap negara-negara yang membayar biaya transit untuk Hormuz. Ancaman sanksi tersebut berpotensi mengurangi arus minyak dari kawasan Teluk ke pasar global. Imbasnya adalah potensi volatilitas yang lebih tinggi di pasar energi.
Menurut laporan internal Cetro Trading Insight, UAE berencana keluar dari OPEC pada 1 Mei, menandai perubahan signifikan bagi kelembagaan produksi minyak. Krisis energi yang sedang berlangsung mengungkap perpecahan di antara negara Teluk terkait respons terhadap konflik Iran. Sementara itu, peninjauan infrastruktur minyak menyoroti biaya yang terkait dengan kapasitas penyimpanan di Kharg Island.
WTI naik untuk hari ketiga berturut-turut dan diperdagangkan sekitar 96.90 dolar per barel pada jam perdagangan Asia. Momentum kenaikan dipicu oleh kekhawatiran berkelanjutan atas pasokan global. Para investor tetap waspada terhadap perkembangan diplomatik yang dapat mengubah lanskap pasokan.
Penutupan praktis jalur Hormuz telah menghentikan sekitar 20 persen pengiriman minyak global, menambah tekanan pada harga secara keseluruhan. Pasokan yang terhambat meningkatkan volatilitas pasar dan memperbesar risiko terkait aliran energi. Para pelaku pasar mengamati bagaimana kebijakan nasional dan sanksi baru dapat mempengaruhi arus minyak.
AS telah memperluas tekanan pada Iran melalui sanksi tambahan, termasuk terhadap refiners China yang terlibat dengan Tehran dan terhadap entitas yang membayar transit Hormuz. Langkah-langkah tersebut meningkatkan risiko pembatasan pembelian minyak Iran dan dapat mempengaruhi pembiayaan global. Lembaga keuangan juga meninjau risiko terkait sanksi dan hubungan perdagangan regional.
Secara fundamental, dinamika pasokan yang terganggu memberikan dukungan bagi harga minyak WTI dalam jangka pendek. Jika konflik berlanjut dan Hormuz tetap tertutup, tekanan pembeli bisa mendorong kenaikan lebih lanjut. Namun perkiraan masih bergantung pada perkembangan diplomatik dan respons kebijakan negara terkait.
Dalam skenario teknikal sederhana, level sekitar 99.0 dolar per barel bisa menjadi target awal bagi posisi long jika harga berhasil menembus level tersebut. Dengan open di sekitar 96.9, peluang mencapai target memerlukan manajemen risiko yang ketat. Investor sebaiknya mempertimbangkan rasio risk-reward minimal 1:1.5 untuk setiap perdagangan.
Penting untuk terus memantau pembaruan terkait negosiasi Iran serta kebijakan negara Teluk yang bisa memicu volatilitas pasar. Penempatan stop loss di sekitar 95.5 dolar per barel membantu membatasi kerugian jika pergerakan berbalik. Secara umum, dinamika geopolitik dan perubahan kebijakan energi akan menentukan arah minyak WTI dalam beberapa minggu ke depan.