Harga minyak WTI terus rebound untuk hari kelima berturut-turut, menyentuh level tertinggi sejak Oktober. Pasar ditopang oleh peningkatan risiko geopolitik terkait protes di Iran yang memperkuat premi risiko. Para pelaku pasar melihat aksi-aksi di wilayah tersebut sebagai faktor utama yang dapat membatasi pasokan dalam jangka pendek.
Harga sekitar 61,50 dolar per barel pada saat penulisan, meningkat hampir 5 persen sepanjang minggu ini. Kekhawatiran terkait potensi gangguan pasokan akibat protes nasional Iran menjaga sentimen tetap konstruktif untuk minyak mentah. Pembicaraan mengenai kemungkinan tindakan militer AS menambah faktor ketidakpastian.
Faktor geopolitik tetap menjadi pendorong utama pergerakan harga, meski dinamika pasokan global sedang dibentuk oleh data mingguan. Investor menilai peluang risiko yang lebih luas terhadap stabilitas regional, yang bisa memicu fase harga lebih tinggi di jangka pendek. Ketidakpastian ini menjaga WTI berada di wilayah tinggi meskipun ada tekanan dari indikator fundamental.
Laporan Administrasi Informasi Energi AS atau EIA menunjukkan kenaikan stok minyak mentah sebesar 3,391 juta barel, melampaui ekspektasi penurunan 2,2 juta barel. Ketidaksempurnaan prediksi stok ini tidak cukup untuk meredam nada bullish yang melekat pada pasar. Pelaku pasar menilai angka tersebut sebagai sinyal bahwa pasokan tetap kuat di beberapa tingkat.
Dalam Prospek Energi Jangka Pendek EIA menegaskan adanya latar belakang yang lebih lembut untuk harga minyak mentah di masa mendatang. Mereka memproyeksikan harga minyak global turun pada 2026 karena produksi global diperkirakan melampaui permintaan. Proyeksi tersebut menambah wacana bahwa persediaan global akan terus meningkat.
Menurut EIA, harga Brent diperkirakan rata-rata sekitar 56 dolar per barel pada 2026 dan turun menjadi sekitar 54 dolar pada 2027, menunjukkan jalur yang lebih lemah di jangka menengah.
Kedua faktor, premi risiko jangka pendek dan dinamika pasokan, bisa menjaga harga minyak tetap kuat dalam beberapa sesi, meski fondamen jangka menengah menunjukkan pelonggaran. Sentimen pasar tetap lebih responsif terhadap berita geopolitik dan laporan inventori mingguan.
Proyeksi persediaan yang naik hingga 2027 menandai kemungkinan perlambatan kenaikan harga, dengan skenario permintaan global yang melambat. Hal ini mendorong trader untuk menimbang sisi risiko serta menyesuaikan level masuk dan keluarnya posisi.
Bagi trader, skenario tetap long dengan pelindung kerugian terdefinisi bisa masuk akal. Rencana trading menekankan risk/reward minimal 1:1,5 dengan tp yang lebih tinggi dari open dan sl yang lebih rendah. Pengelolaan risiko yang disiplin diperlukan karena volatilitas dapat tinggi.