WTI Stabil di Sekitar $65.40 Seiring Ketegangan AS-Iran dan Data Inventaris Minyak AS

trading sekarang

WTI diperdagangkan mendekati datar di sekitar $65.40 per barel pada perdagangan hari itu. Harga tidak banyak berubah meski telah kehilangan dua sesi beruntun. Pasar minyak tetap sensitif terhadap dinamika geopolitik dan tekanan pasokan domestik yang membentuk premia risiko di pasar.

Fokus investor tertuju pada putaran negosiasi nuklir ketiga antara AS dan Iran yang digelar di Jenewa. Hasil pertemuan tersebut dipandang sebagai penentu arah pergerakan harga ke depan. Menurut analisis beberapa bank, kesepakatan yang konstruktif bisa melepaskan premi geopolitik yang saat ini terpangkas sekitar $10 per barel, sementara eskalasi bisa menjaga harga lebih tinggi dalam jangka pendek.

Menurut data EIA, stok minyak mentah AS naik sekitar 15,989 juta barel minggu lalu, terbesar sejak Februari 2023. Kenaikan tersebut menambah kekhawatiran soal kelebihan pasokan global. Selain itu, ekspor mentah Saudi berada pada level tertinggi dalam hampir tiga tahun, Iran juga meningkatkan load tanker, dan kebijakan lisensi Venezuela ke Kuba dapat menambah pasokan dunia. Kondisi ini membuat pergerakan harga tetap dinamis antara risiko geopolitik dan kenyataan surplus.

Ketegangan antara AS dan Iran, pernyataan Trump mengenai kemungkinan tindakan militer, serta peringatan Teheran bahwa pangkalan militer AS bisa menjadi target meningkatkan premi risiko di pasar minyak. Investor menilai sentimen ini sebagai faktor pendukung volatilitas harga dalam beberapa hari ke depan. Sementara itu, faktor lain seperti kebijakan perdagangan dan arus kapal di wilayah Teluk turut menambah kompleksitas analisis pasar.

Analisis ING Group menekankan bahwa hasil negosiasi akan menjadi kunci arah pergerakan harga. Kesepakatan yang jelas bisa secara bertahap mengurangi premi geopolitik yang saat ini terpangkas sekitar $10 per barel. Sebaliknya, tanda eskalasi bisa menjaga tekanan ke harga lebih tinggi dalam beberapa hari mendatang.

Dari sisi pasokan, Saudi Arabia berada di ambang level ekspor tertinggi dalam hampir tiga tahun, dan Iran juga meningkatkan laju load tanker. Kebijakan AS untuk mengizinkan lisensi penjualan minyak Venezuela ke Kuba turut menambah pilihan pasokan di pasar internasional. Semua faktor ini menambah volatilitas sambil permintaan global tetap menjadi faktor penentu di jangka menengah.

Pasar minyak berada dalam lingkungan yang kompleks, berayun antara tensi geopolitik dan sinyal surplus nyata. Meski dinamika geopolitik membatasi kepastian, beberapa indikator permintaan global menunjukkan ketahanan yang mendukung harga secara moderat. Kondisi ini mendorong pergerakan harga cenderung sideways dalam beberapa hari ke depan.

Data EIA mengonfirmasi lonjakan inventori minyak mentah AS, menambah kekhawatiran terhadap surplus jangka pendek. Namun, pasar tetap dipengaruhi oleh risiko geopolitik yang bisa mendongkrak volatilitas di sepanjang minggu. Para analis menilai bahwa fundamental jangka pendek sedang berada di ujung batas antara tekanan supply dan dukungan permintaan global.

Secara umum, arah pergerakan WTI akan sangat bergantung pada hasil negosiasi Washington-Teheran dalam beberapa hari mendatang. Jika kesepakatan tercapai, premi geopolitik bisa mereda dan harga berpotensi menyesuaikan ke arah bawah atau bergerak sideways, tergantung dinamika permintaan. Jika eskalasi berlanjut, harga bisa tetap didorong lebih tinggi meski data inventori menunjukkan surplus; rasio risiko-imbalan tetap menjadi pertimbangan utama bagi trader yang mencari peluang berisiko rendah. Level perhatian utama berikutnya berada di kisaran $65 per barel, dengan potensi pergerakan lebih lanjut jika sentimen geopolitik berubah.

broker terbaik indonesia