Harga WTI berada dalam pelemahan tipis meski sesi sebelumnya sempat mencatat kenaikan lebih dari 1,5 persen. Pada perdagangan Asia, WTI diperdagangkan mendekati USD63,50 per barel. Sentimen pasokan global tetap dominan karena kekhawatiran kelebihan pasokan dapat mendorong harga turun lebih lanjut. OPEC+ dilaporkan sedang mempertimbangkan melanjutkan kenaikan produksi mulai April, setelah jeda tiga bulan, untuk mengantisipasi permintaan musim panas.
Analisis pasar menilai langkah OPEC+ dapat mempertekan harga jika produksi benar-benar meningkat. Meski permintaan musiman bisa memberikan sedikit dukungan, level teknis sekitar USD63-64 tetap menjadi penghalang yang diperhatikan banyak pelaku pasar. Aktivitas perdagangan di Asia tampak lesu karena libur Tahun Baru Imlek di beberapa pasar utama.
Kekhawatiran mengenai kelebihan pasokan berlanjut meski beberapa faktor geopolitik memberikan piihan volatilitas sesaat. Reuters menyoroti kesiapan anggota OPEC+ untuk menyesuaikan rencana produksi dalam rangka menghadapi perubahan permintaan. Secara umum, prospek jangka pendek minyak tetap bergantung pada dinamika pasokan dan persepsi pasar terhadap risiko.
Ketegangan geopolitik meningkatkan risiko pasokan ketika Iran melakukan latihan maritim di Selat Hormuz, jalur yang mengalirkan sekitar 20% minyak global. Washington juga memperkuat kehadiran militer di wilayah tersebut, menambah kekhawatiran akan gangguan pasokan menjelang negosiasi nuklir di Jenewa. Ketidakpastian ini bisa mendorong volatilitas harga minyak pada sesi mendatang.
Klaim bahwa Iran dapat melunakkan program nuklir sebagai imbalan penghapusan sanksi menambah kompleksitas negosiasi. Meski ada pernyataan bahwa AS terlibat secara tidak langsung, pelaku pasar tetap skeptis terhadap momentum dan hasil perundingan. Pasar menilai kemajuan diplomatik masih rapuh dan bisa berubah arah dengan cepat.
Di sisi lain, pembicaraan antara AS, Rusia, dan Ukraina juga diharapkan berlangsung, namun peluang terobosan dalam waktu dekat masih rendah. Keadaan geopolitik global menambah risiko yang dapat memicu perubahan besar pada harga minyak jika progres diplomatik tidak terjadi. Investor disarankan mengikuti perkembangan diplomasi sambil memantau data pasar lainnya.
Di Asia, aktivitas perdagangan diperkirakan tetap rendah karena libur Tahun Baru Lunar yang mengurangi likuiditas. Meskipun demikian, harga minyak didorong mendekati level USD63,5 per barel pada sesi Asia, menandai adanya ketidakpastian yang membatasi arah harga. Pergerakan juga dipengaruhi ekspektasi kebijakan produksi OPEC+ serta dinamika permintaan global.
Faktor utama yang bisa menggerakkan harga dalam jangka pendek adalah perubahan pasokan dari OPEC+ dan risiko geopolitik di Hormuz. Skema rekomendasi pasar menunjukkan potensi kenaikan jika eskalasi geopolitis menekan pasokan lebih lanjut, namun tekanan kelebihan pasokan tetap menjadi risiko utama. Pelaku pasar perlu menjaga manajemen risiko yang prudent dan memantau rilis data pasokan mingguan.
Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk menyajikan gambaran pasar minyak secara menyeluruh tanpa rekomendasi instrumen tertentu. Pembaca disarankan melakukan evaluasi mandiri, mengikuti perkembangan kebijakan OPEC+, dan menerapkan prinsip manajemen risiko yang sesuai dengan profil masing-masing.