Harga minyak mentah WTI berada di bawah sorotan akibat kombinasi faktor geopolitik dan dinamika pasokan. Ketegangan di sekitar Jalur Hormuz membuat trader menilai risiko gangguan aliran minyak ke pasar global, meski ada sinyal deeskalasi. Informasi terbaru menunjukkan bahwa Trump menunda serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari setelah menyatakan adanya pembicaraan yang konstruktif, sementara Tehran membantah adanya negosiasi yang sedang berlangsung.
Di sisi lain, rilis cadangan strategis secara terkoordinasi sebesar 400 juta barel yang dilaporkan IEA mulai disalurkan. AS berkontribusi 172 juta barel dari Simpanan Minyak Strategis. Meski langkah ini memberikan dukungan pasokan, analis mengingatkan bahwa dampaknya tidak cukup untuk sepenuhnya mengatasi potensi kekurangan akibat penutupan Hormuz. Pasar tetap berhati-hati menimbang prospek jangka pendek yang volatile.
Hasilnya, pergerakan harga minyak menampilkan salah satu rentang intraday terlebar dalam sejarah, dengan WTI sempat turun sekitar 9% dan menembus kisaran rendah sekitar $84 sementara rebound ke sekitar $90 terjadi di sisa sesi. Pergerakan besar ini memantapkan pandangan volatil yang masih mendominasi pasar energi saat ini.
Dalam grafik 5-menit, harga WTI berada sekitar $89.29 dan menunjukkan bias jangka pendek yang cenderung bearish. Harga juga berada di bawah rata-rata pergerakan eksponensial 200-periode yang berada di sekitar $93.40, menambah tekanan pada tren intraday.
Indikator momentum seperti stochastic RSI telah turun dari kondisi jenuh beli, mengindikasikan pelemahan momentum kenaikan. Hal ini menambah ruang bagi penurunan lebih lanjut jika harga gagal menembus zona resistance utama.
Level teknikal penting mencakup dukungan di sekitar $88.75 sebagai sumber pembalikan terakhir, dengan potensi menurun ke $86.50 dan berikutnya menuju $85.70 jika penurunan berlanjut. Sisi atas memiliki hambatan di $90.00, dilanjutkan $90.50, dan zona kuat di $91.00 yang perlu ditembus untuk mengubah arah tren menuju sisi atas.
Meski ada nada deeskalasi, ketegangan di Hormuz serta kekhawatiran gangguan pasokan tetap menempatkan minyak mentah pada risiko volatilitas jangka pendek. Para pelaku pasar perlu memperhitungkan skenario penurunan maupun konsolidasi saat membuat rencana perdagangan harian. Faktor geopolitik dan dinamika cadangan global akan terus menjadi penentu arah harga.
Strategi perdagangan yang konsisten dengan kondisi saat ini bisa menimbang pendekatan jual pada level sekitar $89,29 dengan target turun ke $86,50. Pengaturan stop loss di sekitar $90,50 dapat menjaga risiko relatif terkendali jika pasar bergerak melawan posisi. Rasio risiko-imbalan yang diharapkan setidaknya 1:1,5 agar peluang profit menyeimbangkan risiko.
Selain itu, gambaran makro seperti revisi proyeksi Goldman Sachs terhadap harga minyak dan pernyataan kebijakan moneter dapat mempengaruhi pergerakan jangka menengah. Pelaku pasar perlu mengikuti perkembangan laporan persediaan dan dinamika aliran Hormuz untuk menilai peluang di sesi berikutnya.