WTI memperlihatkan pelemahan berlanjut pada hari kedua berturut-turut. Harga minyak itu berada di sekitar 55.9 dolar per barel setelah laporan bahwa AS akan menjual minyak Venezuela memicu kekhawatiran pasokan berlebih. Pasar menimbang dampak kebijakan tersebut terhadap aliran minyak ke pasar global.
Para pelaku pasar menilai bahwa langkah AS mengontrol ekspor dan pendapatan minyak Venezuela berpotensi meningkatkan tekanan pasokan. Hal ini terjadi sementara sentimen perdagangan global cenderung sensitif terhadap berita geopolitik. Ketidakpastian tersebut membuat momentum turun masih tetap ada meski ada data yang menggambarkan penarikan persediaan.
Menggerakkan sentimen pasar adalah dinamika geopolitik yang melingkupi Venezuela. Investor menunggu respons kebijakan dari pemerintahan baru dan bagaimana hal itu mempengaruhi produksi di lapangan minyak utama. Secara garis besar pasar tetap cermat terhadap arahan kebijakan dan perubahan aliran minyak.
Gedung Putih menyatakan sedang mengelola dan mengawasi sektor minyak Venezuela untuk menjaga aliran pendapatan bagi kedua negara. Strategi ini mencerminkan upaya menggunakan kendali ekspor sebagai alat pengaruh. Kesan awalnya adalah volatilitas harga yang meningkat karena ketidakpastian implementasi kebijakan.
Dalam konteks produksi, pejabat menunjuk peluang peningkatan output Venezuela beberapa ratus ribu barel per hari dalam jangka pendek hingga menengah. Hal ini menambah tekanan pasokan global yang telah berlangsung. Pasar mengevaluasi dampak kebijakan tersebut terhadap prospek harga minyak dalam beberapa minggu ke depan.
Di luar kebijakan utama, dinamika geopolitik juga membayangi pasar melalui insiden penyitaan kapal tanker berbendera Rusia terkait ekspor Venezuela. Otoritas Rusia membantah penggunaan kekuatan terhadap kapal yang terdaftar secara sah. Ketegangan semacam ini memperburuk volatilitas pasar energi.
Laporan EIA menunjukkan penarikan persediaan minyak mentah AS sebesar 3.831 juta barel pada minggu terakhir, sedangkan ekspektasi pasar adalah kenaikan sekitar 1.1 juta barel. Angka tersebut menandai posisi bullish teknis yang kuat secara historis, meski respons pasar tampak terbatas. Penurunan persediaan sering dilihat sebagai faktor pendukung harga, tetapi konteks pasokan Venezuela tetap menjadi fokus utama.
Penurunan stok yang lebih besar dari ekspektasi tidak cukup mengangkat harga karena pelaku pasar tetap fokus pada aliran minyak Venezuela yang berpotensi masuk ke pasar dalam jumlah besar. Ketidakpastian kebijakan serta dinamika geopolitik membuat harga mudah berubah arah. Sinyal pasar belakangan ini cenderung didorong oleh berita eksternal yang dapat mengatur arah pasar.
Secara umum, pergerakan minyak mencerminkan kombinasi tekanan fundamental dan volatilitas teknikal. Investor mencari konfirmasi arah melalui level teknikal dan berita kebijakan yang terus berkembang. Rentang harga berikutnya akan diuji oleh respons pasar terhadap berita baru dari otoritas AS dan para pelaku industri.