
WTI turun untuk hari kedua berturut-turut, diperdagangkan sekitar $81.90 per barel pada sesi Asia. Penurunan ini sebagian didorong oleh sinyal diplomatik sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang meredakan kekhawatiran pasokan. Sementara itu, duel militer di kawasan juga terus berlanjut, dengan AS menegaskan tindakan terhadap Iran yang memasuki hari kesepuluh.
Para pejabat Iran melaporkan bahwa mediator telah mengusulkan langkah-langkah untuk meredakan ketegangan, bahkan ada spekulasi tentang gencatan senjata 10 hari. Sinyal tersebut menambah harapan bahwa risiko geopolitik bisa mereda dalam jangka pendek. Namun pasar tetap berhati-hati karena potensi gangguan pasokan bisa meningkat jika kampanye militer berlanjut.
Kekhawatiran pasokan global tetap menonjol karena konflik yang berlarut-larut dan serangan balasan yang berlanjut. Kelompok yang didukung Iran, Houthi, telah mengumumkan embargo maritim yang menargetkan jalur pengiriman energi melalui Laut Merah, menambah tekanan pada rute utama minyak. Penurunan lalu lintas kapal di Selat Hormuz juga menambah ketidakpastian, memberikan dukungan pada tekanan harga jangka pendek.
Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran meningkat, dengan serangan balasan Teheran terhadap negara tetangga yang memperparah volatilitas pasar minyak. Pasar menilai risiko gangguan pasokan di wilayah Timur Tengah yang sangat sensitif. Investor menimbang bagaimana dinamika ini akan memengaruhi aliran minyak global dalam beberapa minggu mendatang.
Staf pendukung Iran melalui militan Houthi menegaskan embargo terhadap lalu lintas pelayaran di Red Sea, yang dapat menunda rute utama menuju Asia dan Eropa. Pembatasan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan melalui Selat Hormuz, pintu gerbang utama minyak global. Dampaknya terasa pada harga minyak yang cenderung menguat ketika risiko pasokan meningkat.
Peluang de-eskalasi melalui negosiasi 10 hari menambah volatilitas pasar, tergantung pada bagaimana negosiasi berikutnya berlangsung. Pelaku pasar menyeimbangkan peluang pemulihan pasokan terhadap risiko konflik yang berkelanjutan. Harga minyak dapat bergerak secara zig-zag mengikuti berita diplomatik dan dinamika pasokan.
Ke depan, pergerakan harga minyak sangat bergantung pada kejelasan jalur diplomatik dan respons pasar terhadap perkembangan pasokan. Jika de-eskalasi berlanjut dan pasokan tetap stabil, tekanan turun bisa membatasi penurunan lebih lanjut. Namun, para analis mengingatkan bahwa risiko di Hormuz tetap menjadi ancaman utama bagi stabilitas harga.
Sebaliknya, jika ketegangan meningkat atau gangguan pasokan memburuk, harga minyak berisiko rebound dan mencoba level yang lebih tinggi. Pasar akan menilai bagaimana respons negara soal sanksi, sengketa maritim, dan kebijakan produksi mempengaruhi aliran minyak global. Investor disarankan memantau rilis data pasokan serta perkembangan negosiasi diplomatik secara berkala.
Dari sisi strategi perdagangan, pendekatan fundamenta memerlukan pemantauan ketat terhadap berita Timur Tengah. Dalam kerangka risiko-untung, rekomendasi umum mengarahkan pada target profit yang realistis dengan stop loss yang proporsional, menjaga rasio risiko-imbalan minimal 1:1.5. Hindari overexposure terhadap volatilitas tinggi dan gunakan manajemen risiko yang disiplin.