WTI Turun Saat Iran-AS Lanjut Negosiasi, Pasokan Dipantau Ketat

trading sekarang

Harga minyak mentah WTI melemah tipis pada perdagangan Asia, berfluktuasi sekitar 65 dolar AS per barel. Laporan ini disiapkan oleh Cetro Trading Insight untuk memberikan analisis yang jelas bagi pembaca awam. Pergerakan ini terjadi meski investor sempat melihat sedikit kenaikan pada sesi sebelumnya, tetapi sentimen pasar tetap berhati-hati.

Para pelaku pasar terus memantau dinamika antara Washington dan Tehran serta bagaimana hasil negosiasi dapat mempengaruhi sanksi dan pembatasan ekspor. Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk juga memberi tekanan pada harga meski beberapa faktor teknis mendukung stabilitas dalam jangka pendek. Dengan pasokan sebagai fokus utama, pasar menimbang risiko gangguan terhadap aliran minyak global.

Kedepannya pertemuan teknis di Vienna dan komunikasi antara kedua negara akan menentukan arah pergerakan harga. Meski ada upaya menahan gejolak, potensi risiko geopolitik tetap tinggi dan bisa memicu pergeseran harga secara berkelanjutan. Saat ini level sekitar 65 dolar AS per barel menjadi patokan yang mencerminkan ketidakpastian mendekati lanjutan negosiasi.

Pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat berlanjut, dengan pernyataan Iran mengenai relief sanksi dan kerangka pembebasan pembatasan yang diinginkan. Narasi ini menciptakan dinamika baru bagi pasokan minyak mentah global, meski tidak ada kepastian soal jadwal implementasi. Investor menilai bagaimana langkah tersebut dapat mengubah aliran minyak dari wilayah produksi utama.

AS dilaporkan menunda penjualan aset luar negeri milik Lukoil untuk memberi tekanan pada Moskow dalam negosiasi Ukraina. Langkah ini menambah ketidakpastian pasar dan memperkuat fokus pada bagaimana sanksi energi mempelajari produksi serta ekspor minyak global. Pasar juga memantau respons Eropa dan negara lain terhadap perubahan kebijakan sanksi tersebut.

Otoritas sanksi AS melalui OFAC memperpanjang tenggat waktu transaksi hingga 1 April, sehingga memberi ruang bagi negosiasi dan evaluasi teknis. Perpanjangan ini menambah jeda pada dinamika pasokan, meski tidak menjamin stabilitas harga jangka pendek. Efek kebijakan semacam ini sering kali menambah volatilitas pasar seiring para pelaku pasar menilai risiko geopolitik.

Berdasarkan informasi yang tersedia, arah jelas untuk trading belum terlihat. Analisis fundamental menunjukkan faktor geopolitik dan kebijakan energi akan terus membentuk sentimen, namun tidak ada sinyal beli atau jual yang pasti saat ini. Pasar menantikan konfirmasi lebih lanjut terkait langkah negosiasi dan dampaknya terhadap pasokan.

Dengan harga berada di kisaran 65 dolar AS per barel, risiko dan potensi imbalan tetap perlu dievaluasi secara hati-hati. Katalis utama adalah perkembangan pembicaraan Iran-AS, rencana pembebasan sanksi, dan dinamika penahanan pasokan dari Rusia serta sekutu lainnya. Kondisi ini mengharuskan trader mengamati berita terkait secara proaktif sebelum mengambil posisi.

Untuk saat ini rekomendasi kontrarian atau posisi langsung tidak dapat disarankan karena informasi belum cukup untuk memastikan arah. Investor disarankan mengikuti rilis resmi dan laporan pasar untuk mengidentifikasi peluang yang memberikan keseimbangan risiko dan imbalan minimal 1:1.5 jika sinyal perdagangan muncul di masa mendatang.

broker terbaik indonesia