Para ekonom Societe Generale menilai Zona Euro memasuki episode lonjakan harga energi dengan ketahanan yang lebih besar dibandingkan fase sebelumnya. Upaya mengurangi intensitas gas dan minyak selama satu dekade terakhir menjadi kunci utama menjaga konsumsi tetap kuat meski harga energi melonjak. Dalam analisis yang dirujuk oleh Cetro Trading Insight, zona euro menunjukkan daya tahan yang lebih besar terhadap guncangan pasokan energi.
Hasil simulasi NiGEM menunjukkan bahwa kenaikan harga energi yang lebih tinggi akan memangkas pertumbuhan ekonomi zona euro hanya sekitar 0.2–0.3 persen poin dalam skenario dasar. Konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap resilien, didukung oleh stimulus fiskal Jerman dan investasi berbasis AI. Pemulihan pasar perumahan juga berkontribusi pada dinamika permintaan domestik yang lebih stabil.
Ekonomi zona euro diperkirakan tumbuh di atas potensi sepanjang horizon proyeksi, meskipun risiko geopolitik masih tersisa. Para ekonom menekankan bahwa defisit publik cenderung membesar sejalan dengan langkah-langkah ekspansif saat ini, sementara volatilitas inflasi diperkirakan turun menuju sekitar target. Adapun jalur kebijakan ECB tetap menjadi fokus, dengan pola kenaikan bertahap yang direncanakan untuk 2026–2027 meskipun belum ada tindakan segera.
Fokus kebijakan fiskal zona euro menunjukkan defisit publik yang diperkirakan naik menjadi sekitar 3.4% dari PDB pada 2025–2026, dengan Jerman mengalami lonjakan defisit dari sekitar 2.4% pada 2025 menjadi 4.3% pada 2026. Kebijakan ini mencerminkan ruang fiskal yang cukup untuk mendukung pemulihan, meskipun perlu dikelola agar tidak membebani kestabilan harga. Skenario ini sejalan dengan pandangan bahwa pelonggaran fiskal bisa menopang konsumsi dan investasi jangka menengah.
Beberapa negara diperkirakan memanfaatkan ruang fiskal itu untuk mendorong pertumbuhan melalui dukungan terhadap inovasi, infrastruktur, dan sektor properti. Meski demikian, volatilitas harga energi dan dinamika inflasi menjaga kebijakan tetap hati-hati. Tidak ada langkah ECB yang diambil secara mendesak karena inflasi diperkirakan tetap berada di sekitar target jangka panjang hingga 2027.
ECB tetap mengutarakan jalur kenaikan suku bunga secara moderat, dengan proyeksi 25 basis poin pada Desember 2026 dan 25 basis poin lagi pada Juni 2027 dalam skenario baseline. Namun risiko perubahan jalur kebijakan muncul jika pembaruan proyeksi menunjukkan evaluasi dampak jangka menengah yang lebih jelas, yang bisa mendorong percepatan langkah kebijakan. Ketatnya evaluasi risiko ini membentuk dinamika ekspektasi pasar terkait suku bunga di masa depan.
Analisis ini menunjukkan bahwa perekonomian zona euro cenderung tumbuh lebih kuat dari kapasitas potensi, meskipun ketidakpastian geopolitik dan dinamika harga energi tetap menjadi faktor utama. Dampak kebijakan moneter yang lebih hawkish bisa mendukung pergerakan euro, terutama jika harga energi stabil dan permintaan domestik tetap sehat. Namun, volatilitas global tetap menyisakan risiko bagi investor.
Investors disarankan memantau tiga fokus utama: arah harga energi, dinamika defisit fiskal, dan jalur investasi digital serta perumahan yang bisa membentuk arus modal jangka menengah. Ketegangan kebijakan fiskal di beberapa negara anggota juga perlu dicermati karena mempengaruhi imbal hasil dan nilai tukar secara simultan. Penilaian risiko harus dilakukan secara berkelanjutan untuk menghindari eksposur berlebih terhadap volatilitas pasar.
Kesimpulannya, narasi makro Zona Euro menunjukkan potensi bias ke arah kebijakan moneter yang lebih hawkish dan dukungan terhadap permintaan domestik. Cetro Trading Insight menekankan bahwa pergerakan euro tergantung pada stabilitas harga energi dan kestabilan fiskal. Investor sebaiknya menyusun rencana trading dengan tetap menjaga eksposur risiko dan memantau perkembangan prospek energi serta proyeksi kebijakan secara berkala.