Seiring berlangsungnya minggu perdagangan, pasar menunjukkan sikap hati-hati saat para investor menantikan pidato di Forum Ekonomi Dunia Davos. Narasi perdagangan antara Uni Eropa dan Amerika Serikat serta isu geopolitik terkait Greenland dipandang sebagai pendorong volatilitas jangka menengah. Para analis menilai isyarat kebijakan yang mungkin mengubah arus investasi global dan risiko eksposur bagi likuiditas pasar keuangan.
Kalender ekonomi AS menyoroti rilis Penjualan Rumah Tertunda untuk Desember, data yang penting bagi estimasi permintaan rumah tangga dan tren kredit. Respons pasar terhadap angka ini bisa memengaruhi ekspektasi suku bunga jangka menengah dan dinamika konsumsi. Sinyal tersebut juga akan mempengaruhi persepsi investor terhadap kekuatan ekonomi AS secara keseluruhan.
Setelah akhir pekan panjang, indeks utama Wall Street menunjukkan tekanan bearish, sejalan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik. Nasdaq Composite dan S&P 500 keduanya kehilangan lebih dari dua persen pada perdagangan harian hari sebelumnya. Indeks Dolar AS juga berada di wilayah negatif untuk hari kedua berturut-turut, menambah ketidakpastian likuiditas global.
Di awal sesi, indeks saham berjangka AS diperdagangkan lebih tinggi namun nada risk-off tetap mendominasi karena kekhawatiran geopolitik dan dinamika imbal hasil. Para investor mengamati pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang yang berpeluang menekan atau menguatkan kurs dolar AS secara relatif. Pergerakan mata uang utama seperti GBP USD, EUR USD, dan AUD USD menunjukkan dinamika yang saling terkait dengan kebijakan moneter bank sentral dan inflasi domestik.
Data inflasi Inggris yang dirilis ONS menyiratkan tekanan harga konsumen meningkat menjadi 3,4 persen pada Desember dari 3,2 persen, melampaui ekspektasi pasar 3,3 persen. Secara bulanan, inflasi meningkat 0,4 persen setelah bulan sebelumnya mengalami penurunan 0,2 persen. Reaksi pasar terhadap angka ini relatif terbatas, dan pasangan GBP/USD tetap terjaga dalam rentang sempit di bawah 1,3450.
Di sisi Asia, fokus beralih pada pergerakan yen dan imbal hasil obligasi Jepang. USD/JPY cenderung tenang di sekitar 158.00, namun kekhawatiran meningkat terkait lonceng imbal hasil jangka panjang Jepang. Analis MUFG menyoroti tekanan jual yang diikuti oleh kebijakan BoJ yang diharapkan lebih hawkish untuk menjaga inflasi kembali ke target. Ketidakpastian ini berpotensi memperkuat penjualan yen pada masa mendatang.
Emas melanjutkan tren kenaikan impresif menuju level tertinggi baru dekat 4.900 dolar AS per ounce, menandai momentum inflasi global dan permintaan kepada aset safe-haven. Namun pada sesi Asia, XAUUSD turun sedikit namun masih berada di zona hijau sekitar 4.850, menunjukkan adanya koreksi teknis disertai kelanjutan bullish jangka panjang. Investor tetap mencermati faktor-faktor risiko global yang dapat memicu pergerakan ekstrem pada logam mulia.
Sementara perak juga menunjukkan fase konsolidasi di sekitar 94,70, dengan kenaikan kecil pada hari sebelumnya. Sinyal teknikal pada logam industri ini menandakan adanya potensi pelebaran kisaran harga jika permintaan industri tetap kuat. Pergerakan mata uang utama Amerika Serikat seperti EUR/USD dan AUD/USD mengindikasikan sentimen pasar yang berubah-ubah sesuai data inflasi dan prospek kebijakan moneter.
EUR/USD mengalami koreksi setelah rally dua hari sebelumnya, tetapi tetap bertahan di atas 1,1700 saat sesi Eropa berlangsung. AUD/USD mempertahankan momentum bullish dengan perdagangan di sekitar 0,6750 pada awal Rabu. Sementara itu, perhatian pasar tetap tertuju pada dinamika kebijakan BoJ dan tekanan imbal hasil yang dapat memicu volatilitas lebih lanjut pada USD/JPY dan pasangan terkait lainnya.