Menurut Cetro Trading Insight, dolar AS melemah secara umum sepanjang pekan ini setelah data tenaga kerja AS menunjukkan 130.000 pekerjaan baru pada Januari, sementara tingkat pengangguran turun menjadi 4,3 persen. Indeks dolar DXY turun dari puncaknya di sekitar 97,15 menjadi sekitar 96,80 setelah inflasi CPI yang lebih lunak mendorong ekspektasi pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve di sisa tahun ini. Pasar menimbang bahwa perubahan tersebut bisa memicu volatilitas, meski fokus utama tetap pada momentum data mendatang.
Pengamatan pasar menekankan bahwa kebijakan moneter Fed tetap menjadi motor utama pergerakan mata uang. Investor membangun skenario pemotongan suku bunga yang dapat menurunkan daya tarik dolar terhadap mata uang berisiko. Dari sudut teknikal, arah menuju konsolidasi dan potensi breakout akan bergantung pada rilis data PCE berikutnya.
Jelang akhir pekan, fokus investor beralih ke Personal Consumption Expenditures (PCE), ukuran inflasi favorit Fed. Data ini diprediksi akan mempengaruhi kebijakan moneter dan sentimen risiko secara luas. Pasar FX cenderung menunggu konfirmasi data sebelum menata portofolio pada beberapa pasangan utama.
EURUSD diperdagangkan di sekitar 1,1880, setelah flash Q4 GDP zona euro menunjukkan pertumbuhan 1,4% YoY lebih tinggi dari ekspektasi 1,3%. Perhatian pasar juga tertuju pada pertemuan Eurogroup dan rilis data industri Desember, yang bisa menambah sinyal arah kebijakan. Secara umum, pekan ini akan menilai bagaimana pemulihan ekonomi Eropa dibandingkan dengan dinamika AS.
AUDUSD berada di dekat level 0,7080, mendekati level tertinggi tiga tahun berkat sikap hawkish The Reserve Bank of Australia. Data NAB Business Confidence dan Wage Price Index menjadi fokus utama, disertai rilis data pekerjaan Australia serta PMI flash S&P Global yang bisa memberikan arah bagi aussie. Pasar juga akan memperhatikan rilis suku bunga dan komentar pejabat bank sentral di tengah pelonggaran kebijakan.
USDJPY diperdagangkan sekitar 152,80 menandai aksi jual tajam terkait kekhawatiran perubahan kebijakan fiskal pasca kemenangan PM Jepang. Pasar menanti rilis CPI Jepang dan komentar kebijakan sebagai pemicu arah baru. Kondisi ini menggarisbawahi bagaimana dinamika kebijakan fiskal dan inflasi domestik mempengaruhi pasangan ini dalam beberapa sesi mendatang.
Emas diperdagangkan mendekati $5.038 per troy ounce, berusaha pulih dari penurunan Kamis meskipun belum mampu kembali ke level tertinggi Januari di sekitar $5.598. Didukung oleh volatilitas pasar dan risiko geopolitik, logam mulia berupaya mempertahankan posisi sebagai alat lindung nilai meskipun tampak ada pergerakan menuju risiko yang lebih tinggi. Analisis dari Cetro Trading Insight menyiratkan dinamika ini akan tetap relevan dalam beberapa sesi mendatang.
Sentimen investor saat ini dipengaruhi oleh faktor makro global yang beragam, serta potensi pergerakan kebijakan moneter. Dalam situasi seperti ini, emas digunakan sebagai jaring pengaman terhadap ketidakpastian ekonomi global. Namun, arus modal dapat berputar jika data inflasi AS menunjukkan pembentukan jalur kebijakan yang lebih dovish.
Agenda pekan ini memuat pertemuan bank sentral dan data inflasi, termasuk laporan ECB dan pernyataan pejabat Fed, yang dapat memicu volatilitas harga emas. Arah jangka pendek akan bergantung pada bagaimana pasar menafsirkan komentar pejabat kebijakan dan hasil data inflasi global. Emas tetap menjadi fokus bagi investor yang menghitung risiko dan peluang di tengah dinamika geopolitik.