Harga emas (XAU/USD) terlihat menguat tipis di kisaran 5.060 dolar AS pada sesi Asia awal. Pergerakan ini menunjukkan permintaan pelindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik antara AS dan Iran. Investor juga menimbang data ekonomi AS yang akan memandu arah harga emas ke depan.
Emas mendapat dukungan dari ketidakpastian global meski data ekonomi AS menunjukkan kekuatan yang berlanjut. Data Nonfarm Payrolls (NFP) Januari meningkat sebesar 130.000 pekerjaan, melampaui ekspektasi pasar. Tingkat pengangguran turun menjadi 4,3% dari 4,4% bulan sebelumnya. Kondisi ini memberi tekanan pada dolar AS, tetapi permintaan terhadap aset safe-haven tetap menjaga dukungan bagi emas.
Rilis CPI AS yang tinggal beberapa hari lagi menjadi fokus utama bagi pelaku pasar. Inflasi yang lebih tinggi berpotensi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga dan menekan harga emas, sementara jika inflasi menunjukkan tanda-tanda melandai, logam mulia bisa mempertahankan posisinya. Analisis dari Cetro Trading Insight menyoroti bahwa volatilitas pasar cenderung meningkat menjelang rilis data utama.
NFP Januari yang meningkat 130.000 pekerjaan menunjukkan pemulihan tenaga kerja yang berlanjut. Angka ini membuat dolar AS menguat secara relatif terhadap beberapa mata uang utama. Meski demikian, emas tetap dipengaruhi oleh faktor geopolitis serta ketidakpastian kebijakan suku bunga.
Dolar AS tetap mendapat dukungan dari data kerja yang kuat, yang berpotensi membatasi kenaikan emas jika yield dolar naik signifikan. Namun, ketegangan geopolitik dan persepsi risiko global menjaga arus masuk investor ke logam kuning sebagai pelindung nilai. Investor juga memantau apakah laju inflasi akan turun atau tetap tinggi, karena hal itu mempengaruhi keputusan bank sentral.
Klaim pejabat Federal Reserve menekankan perlunya menjaga kebijakan pada level restriktif untuk menjaga inflasi tetap terkendali. Komentar tersebut mendukung narasi bahwa peluang pengetatan lebih lanjut bisa tetap ada jika data inflasi tidak menunjukkan penurunan signifikan. Hal ini menambah kompleksitas bagi harga emas dalam beberapa minggu ke depan.
Rilis CPI utama diperkirakan menunjukkan YoY 2,5% pada Januari. Angka ini memiliki potensi besar untuk memicu perubahan ekspektasi suku bunga The Fed, sehingga memengaruhi biaya peluang bagi emas sebagai aset non-bunga.
Jika CPI menunjukkan inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi, peluang untuk pelonggaran kebijakan bisa meningkat, meskipun beberapa pejabat bank sentral tetap membuka kemungkinan pengetatan. Hal ini dapat membatasi pelemahan emas dan, sebaliknya, menambah volatilitas saat pasar menilai sinyal dari beberapa indikator inflasi dan pekerjaan.
Untuk trader, kesiapan terhadap volatilitas dan manajemen risiko tetap menjadi kunci. Analisis dari Cetro Trading Insight menekankan bahwa pergerakan harga bisa sangat volatil menjelang rilis CPI, sehingga strategi yang disiapkan perlu jelas. Poin penting lainnya adalah memperhatikan volatilitas likuiditas selama jam rilis.