Menurut analisis yang dirangkum Cetro Trading Insight, meskipun ada pertanyaan tentang peran USD sebagai safe haven, likuiditas dan penggunaan globalnya tetap menjaga fungsi krisisnya. Laporan itu menekankan bahwa likuiditas di pasar US Treasuries tidak bisa ditandingi, sehingga USD tetap menjadi mata uang utama untuk transaksi di seluruh dunia. Hal ini membentuk kerangka bagi para pelaku pasar yang menganggap USD sebagai referensi utama saat volatilitas meningkat. Dengan demikian, pasar perlu memperhatikan dinamika likuiditas sebagai pendorong utama pergerakan USD.
Para pelaku pasar menilai bahwa bagi banyak investor, USD akan mempertahankan fungsinya sebagai safe haven primer ketika stress pasar sedang tinggi. Kendati ada pertanyaan soal dinamika relatifnya terhadap mata uang lain, peran USD sebagai medium likuiditas global tetap terjaga karena pasar keuangan lintas negara sangat terintegrasi. Menurut kerangka analitis yang diulas, US Treasuries dan infrastruktur likuiditasnya menjadi landasan utama konsistensi USD.
Di sisi lain, laporan tersebut menekankan bahwa CHF menunjukkan karakter safe haven textbook berkat surplus anggaran dan akun berjalan yang kuat. Di situasi krisis, likuiditas sering lebih penting daripada imbal hasil jangka pendek. Dengan demikian, USD dan CHF bisa saling memperkuat posisi mereka sebagai pelindung modal pada saat tekanan ekstrem.
CHF dinilai memiliki sifat safe haven yang kuat karena surplus fiskal dan kelebihan akun berjalan yang konsisten. Hal ini membuat CHF lebih dipilih sebagai tempat berlindung ketika volatilitas naik, karena likuiditasnya tetap tinggi meski imbal hasil relatif rendah. Analisis Cetro Trading Insight menambahkan bahwa atribut ini membentuk dasar bagi perimbangan risiko global di masa krisis.
Di saat krisis, pasar cenderung mengutamakan likuiditas, dan CHF sering dianggap menawarkan stabilitas itu dibandingkan dengan beberapa pasangan mata uang lain. Keseimbangan fiskal yang kuat dan aliran perdagangan eksternal memberi CHF kemampuan untuk menjaga likuiditas tanpa mengorbankan kemampuan bertransaksi. Ini memperkuat posisinya sebagai pelindung risiko yang dapat diandalkan meski tekanan pasar meningkat.
Perbandingan dengan mata uang utama lainnya menunjukkan bahwa CHF lebih tahan terhadap kejutan eksternal karena struktur keuangan yang kokoh. Sisi teknis pasar juga menunjukkan bahwa ketika volatilitas memuncak, investor cenderung mencari asset yang bisa diandalkan, dan CHF sering masuk dalam daftar tersebut. Dengan demikian, CHF tetap relevan sebagai bagian dari strategi hedging risiko terhadap krisis keuangan.
JPY juga ditemukan memiliki kapasitas untuk tampil lebih kuat dibanding beberapa mata uang G10 pada periode stres, berkat posisi akun berjalan Jepang yang relatif sehat. Neraca perdagangan Jepang masih menjadi faktor utama yang menjaga aliran modal masuk melalui neraca saat tekanan meningkat. Selain itu, kecenderungan investor domestik untuk mempercepat repatriasi dana saat krisis memperkuat potensi apresiasi JPY.
Faktor neraca berjalan yang kuat dan dinamika repatriasi domestik menciptakan sisi positif bagi JPY, terutama ketika likuiditas global menipis. Pasar memantau bagaimana arus modal internal mempengaruhi nilai tukar, sehingga JPY bisa menunjukkan daya tahan yang lebih baik daripada beberapa mitra G10. Meski demikian, pergerakan JPY tetap dipengaruhi oleh kebijakan moneter dan dinamika risiko global.
Secara keseluruhan, kombinasi faktor-faktor tersebut membuat JPY menampilkan respon yang lebih solid saat krisis, meskipun USD tetap berfungsi sebagai rujukan utama. Investor perlu memetakan dinamika antara USD, CHF, dan JPY untuk menilai risiko mata uang secara simultan. Dalam konteks strategi trading, analisis fundamental ini menggarisbawahi pentingnya evaluasi multi-skenario dan manajemen risiko yang prudent.