Rilis laporan hari Jumat menunjukkan penurunan risiko setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan kesepakatan dengan NATO mengenai kerangka kesepakatan masa depan terkait Greenland. Langkah tersebut menenangkan pasar yang sempat bergejolak. Ketegangan geopolitik mulai mereda seiring adanya komitmen baru yang disampaikan kedua pihak.
Klaim ini diikuti oleh pencabutan ancaman tarif terhadap delapan negara Eropa, yang sebelumnya akan diberlakukan mulai 1 Februari. Keputusan ini meredakan kekhawatiran eskalasi perdagangan dan mendorong perbaikan sentimen di aset berisiko. Dolar AS melemah terhadap beberapa mata uang utama sebagai respons awal pasar.
Data Belanja Konsumsi Pribadi (PCE) untuk Oktober dan November datang sesuai ekspektasi, menunjukkan inflasi masih sedikit lebih tinggi dari target The Fed namun tidak mengkhawatirkan. Revisi PDB kuartal ketiga dari 4,3% menjadi 4,4% menambah bukti dinamika pertumbuhan. Akibatnya, ekspektasi pemotongan suku bunga pada pertemuan akhir Januari telah berkurang secara signifikan.
AUD/USD diperdagangkan di sekitar 0,6840 dan mempertahankan level tertinggi yang dicapai pada Oktober 2024, didukung oleh penguatan AUD terhadap USD yang melemah. Nada risiko yang lebih positif membantu pasangan ini bertahan pada jalurnya. Investor terus menilai potensi langkah lanjutan seiring rilis data global berikutnya.
EUR/USD berada di sekitar 1,1740, memangkas sebagian keuntungan intraday namun tetap berada di zona hijau pada sesi Amerika. Pasar mengkaji dampak data ekonomi dan kebijakan regional terhadap arah pasangan ini. Namun pergerakan tetap terbatas karena investor menunggu arahan kebijakan lebih lanjut.
USD/JPY diperdagangkan mendekati 158,30 dengan pergerakan terbatas menjelang keputusan kebijakan BoJ pada sesi Asia hari Jumat. Pasar menantikan konfirmasi arah kebijakan yang bisa menambah volatilitas jangka pendek. Analis menyarankan agar fokus tetap pada sinyal teknikal yang muncul setelah rilis kebijakan.
Emas mencapai rekor tertinggi baru di sekitar $4.915 per ons dan diperdagangkan mendekati level tersebut sekitar $4.908, meskipun sentimen risiko membaik. Lonjakan harga mencerminkan permintaan perlindungan nilai di tengah ketidakpastian kebijakan global. Investor tetap memantau pengaruh eskalasi geopolitik terhadap aset safe-haven.
Permintaan emas mencerminkan ketahanan terhadap volatilitas pasar meskipun data ekuitas membaik. Pasar terus mengkaji jalur kebijakan moneter utama di berbagai negara dan bagaimana langkah bank sentral dapat mempengaruhi arah harga logam mulia. Kondisi ini menambah profil risiko bagi trader yang mencari peluang di logam kuning.
Kondisi pasar saat ini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara risiko dan peluang bagi investor. Emas tetap menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin mengunci potensi gejolak likuiditas mendatang. Pergerakan berikutnya akan sangat dipengaruhi keputusan BoJ dan dinamika data ekonomi global.
Di hari-hari mendatang, rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) Selandia Baru bersamaan dengan PMI S&P akan menilai tekanan inflasi dan momentum aktivitas ekonomi negara tersebut. Data ini akan menjadi barometer bagi prospek kebijakan moneter Selandia Baru. Pasar juga menilai bagaimana data ini berinteraksi dengan tren imbal hasil global.
Jepang juga dijadwalkan merilis CPI Nasional, sementara BoJ mengumumkan kebijakan moneternya lengkap dengan konferensi pers pada sesi Asia hari Jumat. Keputusan BoJ berpotensi mengubah dinamika USD/JPY dan volatilitas Asia secara keseluruhan. Investor menantikan petunjuk terkait perubahan bias kebijakan.
PMI Hamburg Commercial Bank untuk Jerman dan zona euro akan dirilis menjelang pembukaan sesi Eropa, diikuti PMI Inggris dan AS untuk Januari. Data ini akan memberi petunjuk arah bagi euro dan dolar serta membantu membentuk ekspektasi kebijakan bank sentral. Pelaku pasar memetakan potensi kejutan data terhadap arah investasi global minggu depan.