
Artikel ini menyajikan gambaran pasar mata uang asing menjelang akhir pekan dengan fokus pada pergerakan dolar AS, dinamika pasangan utama, serta dampak data ekonomi terbaru. Dari sudut pandang fundamental, sentimen pasar menjadi lebih risk-on karena adanya kemajuan dalam pembahasan antara Amerika Serikat dan Iran terkait perpanjangan gencatan senjata dan pembukaan Selat Hormuz. Meski laporan awal mengindikasikan kemajuan, beberapa pihak menegaskan bahwa teks kesepakatan belum final dan persetujuan akhir tetap berada di tangan pihak terkait. Dalam konteks ini, sikap berhati-hati diperlukan mengingat volatilitas tetap tinggi di sesi Asia dan Eropa. Cetro Trading Insight menyajikan rangkuman ini untuk pembaca awam secara jelas dan ringkas.
Kondisi dolar AS mengalami pelemahan terhadap rival utamanya pada bagian kedua hari Kamis karena pasar menjadi lebih optimis tentang kemungkinan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran serta pembukaan jalur perairan penting. Berbagai outlet media melaporkan adanya Memorandum of Understanding (MOU) untuk memperpanjang gencatan 60 hari, membuka Selat Hormuz, dan memulai pembicaraan nuklir. White House mengonfirmasi laporan tersebut meski menegaskan bahwa Presiden Trump belum memberi persetujuan akhir. Sementara itu, pernyataan dari pihak Iran melalui Tasnim menyebutkan bahwa teks MOU belum final. Keadaan ini menambah nuansa risiko yang lebih positif untuk jangka pendek.
Pada pembukaan perdagangan Jumat dini hari, USD Index berada di sekitar 99.00 dan kontrak berjangka saham AS diperdagangkan sedikit lebih tinggi. Sentimen pasar secara umum terlihat lebih optimis meski tetap ada faktor penggerak risiko yang harus diawasi. Pergerakan ini mencerminkan harga risiko yang masih sensitif terhadap perkembangannya di wilayah geopolitik maupun dinamika kebijakan moneter di AS. Investor cenderung menimbang antara potensi pemulihan ekonomi dan ketidakpastian kebijakan fiskal maupun moneter.
Kalender ekonomi pekan ini menyoroti data CPI May prelim Jerman serta pertumbuhan PDB Q1 Kanada, sementara beberapa pejabat The Fed akan menyampaikan pidato. Secara umum, data inflasi AS melalui PCE menunjukkan tekanan harga yang masih relevan bagi jalur kebijakan moneter. Angka PCE YoY April berada pada 3.8%, dengan PCE inti 3.3%. Data ini berpotensi membentuk ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Fed dalam beberapa bulan mendatang. Secara total, pasar cenderung tetap reseptif terhadap pelonggaran atau pengetatan kebijakan yang diumumkan pejabat Fed.
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| PCE Inflation (YoY) | 3.8% |
| Core PCE (YoY) | 3.3% |
| GDP (Q1, revisi) | 1.6% |
Dalam konteks pasangan utama, euro mendapat sedikit dukungan dari tekanan jual terhadap dolar, sehingga EUR/USD naik sekitar 0.2% pada hari Kamis. Namun pada perdagangan dini hari Jumat, pasangan ini terlihat sedikit turun lagi dan berada di bawah level 1.1650, menandakan bahwa pelaku pasar masih menimbang arah pergerakan setelah kenaikan semalam. Kondisi ini mencerminkan rencana para pelaku pasar untuk menunggu konfirmasi lebih lanjut terkait data ekonomi dan arah kebijakan bank sentral Eropa.
Pasangan lain seperti USD/JPY menunjukkan pergerakan yang relatif sempit, diperdagangkan di wilayah sekitar 159.00 dalam kanal sempit setelah beberapa sesi sebelumnya mengalami tekanan. GBP/USD memperlihatkan pemulihan singkat setelah tren turun beberapa hari, tetapi pada Jumat cenderung koreksi ke bawah namun masih berada di atas 1.3400. Sementara AUD/USD sedikit menguat di tengah fase konsolidasi, berada di atas level 0.7150 dan menunjukkan bahwa risiko risiko jangka pendek masih akan ditentukan oleh perkembangannya dalam rilis data dan komunikasi kebijakan.
Selain itu, logam mulia yang menjadi perhatian pasar, meskipun tidak menjadi fokus utama pergerakan saat ini, sempat melemah dalam beberapa sesi sebelum memantul ke zona positif. Perubahan arah ini menegaskan bahwa sentimen pasar lebih responsif terhadap berita geopolitik dan data ekonomi daripada perubahan spekulatif jangka pendek. Pelaku pasar tetap berhati-hati karena volatilitas tetap tinggi dalam kisaran yang dikendalikan berita-berita kebijakan global.
Data inflasi AS via PCE Memorial April menunjukkan laju inflasi inti yang relatif tahan, dengan PCE naik 3.8% secara YoY dan inti 3.3% YoY. Angka bulanan PCE juga menunjukkan kenaikan 0.4%, sedangkan inti PCE meningkat 0.2% bulan ke bulan. Data ini memberikan konteks tambahan bagi ekspektasi pasar mengenai jalur kebijakan The Fed serta potensi penyesuaian suku bunga di masa mendatang.
BEA juga merevisi penilaian pertumbuhan PDB kuartal pertama menjadi 1.6% dari 2% sebelumnya, menandai perlambatan yang bisa mempengaruhi sentimen risiko dan tingkat ekspektasi terhadap kebijakan moneter. Revisi ini menambah nuansa bahwa pemulihan ekonomi masih berlangsung, tetapi dengan kecepatan yang tidak terlalu kuat. Pasar akan terus memantau bagaimana data inflasi dan prospek pertumbuhan mempengaruhi kebijakan bank sentral di periode mendatang.
Di sisi kebijakan lain, laporan CES dari ECB menunjukkan bahwa ekspektasi konsumen langsung meningkat dalam menanggapi dinamika harga sejak konflik Iran dimulai, meskipun inflasi tetap berada di sekitar target 2%. Perkembangan ini memberi gambaran bahwa bank-bank sentral di wilayah euro mungkin mempertimbangkan moderasi kebijakan jika tekanan harga mereda lebih lanjut. Selain itu, komentar pejabat Jepang mengenai kekhawatiran atas pergerakan mata uang spekulatif menambah fokus pada potensi tindakan jika volatilitas pasar FX meningkat secara signifikan.