AUD/USD Menguat Dekat 0,6730 Seiring Dolar AS Melemah dan Investor Menanti Data Tenaga Kerja Australia

AUD/USD Menguat Dekat 0,6730 Seiring Dolar AS Melemah dan Investor Menanti Data Tenaga Kerja Australia

trading sekarang

AUD/USD menguat mendekati 0,6730 seiring dolar AS jatuh lebih dalam akibat sengketa antara Amerika Serikat dan Uni Eropa terkait Greenland. Pergerakan ini mencerminkan respons pasar terhadap sentimen risiko yang lebih mendukung mata uang berisiko dan komoditas. Ketidakpastian geopolitik di sekitar Greenland menjadi pemicu dinamika arus modal di pasar valuta asing.

Indeks Dolar AS, DXY, turun sekitar 0,55% ke level mendekati 98,50, menunjukkan pelemahan greenback di tengah perubahan preferensi investor. Pelemahan ini memberi ruang bagi pasangan mata uang utama untuk membentuk pijakan yang lebih kuat dalam sesi perdagangan Eropa.

Dalam beberapa sesi terakhir, investor cenderung mencari aset safe-haven lain sambil menimbang risiko terkait aliansi transatlantik. Meski demikian, pergerakan AUD tetap terpantau sebagai indikator selera risiko pasar secara umum, sesuai dengan dinamika likuiditas mata uang utama.

Kebijakan Moneter Australia dan Data Tenaga Kerja

Para pelaku pasar menantikan laporan tenaga kerja Australia untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter Reserve Bank of Australia (RBA). Data ketenagakerjaan di Australia memiliki dampak langsung pada ekspektasi suku bunga dan dinamika kurs AUD terhadap mata uang utama lainnya.

Ekonomi Australia diperkirakan menambah sekitar 30.000 pekerjaan pada Desember, setelah catatan November menunjukkan pengurangan 21,3 ribu pekerjaan. Angka ini menjadi sinyal penting bagi bank sentral terkait perlunya menjaga kebijakan moneter yang sesuai dengan laju inflasi dan pertumbuhan.

Tingkat pengangguran diperkirakan naik menjadi 4,4% dari 4,3% pada rilis berikutnya. Perubahan pada tingkat pengangguran dapat mempengaruhi ekspektasi kebijakan RBA dan respons pasar terhadap data ketenagakerjaan yang dirilis.

Dinamika Geopolitik dan Dampaknya pada Pasar

Di tengah fokus pada data Australia, faktor geopolitik seperti penerapan tarif 10% oleh Amerika Serikat terhadap beberapa anggota UE dan Inggris karena sengketa Greenland turut membentuk sentimen risiko global. Ketegangan ini memicu volatilitas di pasar valuta asing dan komoditas.

Menteri Keuangan AS Bessent menegaskan bahwa Washington tidak berniat meninggalkan keanggotaan NATO di tengah perselisihan Greenland. Komentar tersebut menambah beberapa stabilitas sementara pasar menilai implikasi jangka panjang bagi hubungan transatlantik.

Pertemuan dan pembicaraan di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos menyoroti prospek kepemimpian Federal Reserve serta arah kebijakan moneter secara umum. Penilaian atas risiko geopolitik dan kebijakan fiskal memperkuat pergerakan AUD/USD, meskipun pasar tetap waspada terhadap volatilitas lanjutan.

broker terbaik indonesia