
Data Q1 Australia menunjukkan pertumbuhan 0.3% secara kuartalan, melambat dari 0.8% pada kuartal sebelumnya. Tingkat pengangguran mencapai level tertinggi dalam sekitar empat setengah tahun, dan inflasi inti melunak di bulan April. Kondisi ini menambah tekanan bagi Bank Sentral Australia untuk menunda rencana kenaikan suku bunga di bulan Juni.
Bursa dan pasar global terus memantau arah kebijakan Federal Reserve, terutama terkait jalur kenaikan suku bunga yang lebih hawkish meskipun ada volatilitas geopolitik. Indikator pasar seperti CME FedWatch menunjukkan probabilitas lebih dari 50% untuk kenaikan 25 basis poin pada pertemuan Desember. Pernyataan pejabat The Fed, termasuk komentar dari presiden Cleveland Fed, menegaskan komitmen untuk menurunkan inflasi menuju 2% meskipun data ekonomi berfluktuasi.
Di sisi lain, PMI layanan China yang lebih cerah dapat memberi dukungan pada AUD yang terkait dengan ekspor ke China dan menahan tekanan depresiasi lebih lanjut bagi pasangan AUDUSD. Investor juga menantikan rilis data makro AS seperti laporan ADP dan ISM Services PMI, disertai laporan pekerjaan bulanan Nonfarm Payrolls (NFP) yang menjadi fokus utama jelang akhir pekan. Secara umum, dinamika geopolitical dan rencana kebijakan akan menjadi penentu arah pasar ke depan.
Pada sesi Eropa, AUD/USD turun ke sekitar 0.7150, setelah data domestik menunjukkan pelemahan momentum ekonomi. Dolar AS menguat secara luas didorong oleh risiko geopolitik dan harapan atas jalur kebijakan moneter yang lebih tegas di Amerika. Saat ini pergerakan harga terjaga dalam kisaran yang biasa terlihat, sehingga trader cenderung berhati-hati sebelum menaruh posisi spekulatif besar.
Data yang menyoroti kinerja Australia menunjukkan pertumbuhan Q1 yang lemah, inflasi yang melambat, dan peningkatan tingkat pengangguran. Kondisi tersebut memperkuat narasi bahwa RBA masih ragu untuk menaikkan suku bunga pada bulan Juni. Di sisi lain, risiko geopolitik global tetap berperan sebagai pendukung bagi USD, menjaga tekanan pada pasangan AUDUSD secara umum.
Meski demikian, beberapa faktor teknis menunjukkan potensi pembatasan pelemahan lebih lanjut jika data China dan data ekonomi AS bulan ini membaik. Pasar menunggu data pekerjaan AS sebagai kunci arah jangka pendek, sementara fokus utama tetap tertuju pada berita geopolitik dan perkembangan kebijakan bank sentral yang berimbas pada likuiditas global. Dari sisi teknis, kisaran harga yang ketat mengindikasikan diperlukan konfirmasi breakout untuk arah jangka menengah.
Ketegangan di wilayah Timur Tengah dan eskalasi militer antara Amerika Serikat, Iran, serta sekutu regional menciptakan risiko yang mendorong investor mencari perlindungan dalam dolar AS. Serangan balik yang dilaporkan berlanjut dengan adanya pertahanan udara yang ketat dan respons berbagai pihak, menambah volatilitas pasar secara keseluruhan. Dampak terhadap arus modal cenderung mendukung dolar sebagai safe-haven utama di saat ini.
Selain faktor geopolitik, pasar menilai potensi kenaikan kebijakan Federal Reserve. Putaran pertemuan Desember masih diperdebatkan, dengan probabilitas kenaikan 25 bps yang dilaporkan lebih dari 50%. Komentar pejabat Fed, termasuk pandangan bahwa inflasi harus ditekan menuju target 2%, memperkuat narasi bahwa kebijakan tetap ketat untuk menjaga stabilitas harga dalam jangka panjang.
Di sisi lain, PMI layanan Tiongkok yang lebih baik dari ekspektasi dan data pekerjaan AS yang menjelang rilis bisa menjadi faktor penambah dukungan bagi AUD jika sentimen global membaik. Para pelaku pasar juga menantikan NFP AS sebagai penentu arah jangka pendek. Secara keseluruhan, volatilitas AUD/USD diperkirakan tetap tinggi karena dinamika geopolitik dan pergeseran kebijakan moneter global yang saling terkait.