Data Employment Change Australia untuk Maret tercatat 17.9 ribu, meleset dari proyeksi 20.0 ribu. Sementara tingkat pengangguran berada di 4.3 persen, sesuai dengan konsensus pasar. Kondisi ini menunjukkan momentum pekerjaan yang lebih lemah meski ukuran pengangguran tetap rendah, sehingga menambah beban pada mata uang AUD. Analisis ini disusun oleh Cetro Trading Insight
Setelah tiga hari kenaikan, AUDJPY diperdagangkan sekitar 113.90 saat jam perdagangan Asia, mencerminkan tekanan berkelanjutan pada pasangan mata uang tersebut. Pelaku pasar juga menantikan rilis Produk Domestik Bruto China untuk Q1, karena perlambatan ekonomi China bisa berdampak pada permintaan komoditas dan nilai tukar AUDJPY sebagai proxy perdagangan Australia. Faktor global dan komoditas turut membentuk sentimen pasar.
Sementara itu, inflasi ekspektasi konsumen Australia meningkat menjadi 5.9 persen pada April, didorong lonjakan harga minyak. Meski sentimen risiko membaik karena harapan deeskalasi konflik di Timur Tengah, data domestik Australia tetap membatasi momentum positif pada AUDJPY. Dalam konteks ini volatilitas bisa tetap tinggi hingga data ekonomi utama berikutnya dirilis.
Yen Jepang menguat di tengah spekulasi bahwa otoritas Jepang mungkin melakukan intervensi untuk menahan pelemahan yen. Pasar menilai langkah semacam itu sebagai faktor kunci yang bisa mengembalikan dinamika pasangan mata uang ke arah yang lebih seimbang. Ketidakpastian kebijakan memicu pergeseran likuiditas antara mata uang risiko dan safe haven.
Investor memandang intervensi sebagai potensi pembeda arah pergerakan AUDJPY, dengan fokus pada dinamika suku bunga dan intervensi pasar. Secara teknis pasangan tetap berada di sekitar 113.90 pada sesi Asia, menunjukkan adanya tekanan ke bawah yang masih relevan meski ada upaya beli spontan dari pelaku pasar. Aktivitas perdagangan bisa berubah cepat seiring berita kebijakan.
Secara keseluruhan, sentimen pasar masih berbalik- balik karena pergeseran risiko geopolitik dan kebijakan moneter. Dalam kerangka teknis, level 113.90 berperan sebagai landasan bagi penempatan posisi trading jangka menengah, sementara trader mengevaluasi reaksi pasar terhadap data ekonomi berikutnya.
Rilis GDP China untuk Q1 nanti diperkirakan akan memicu perubahan arah AUDJPY, mengingat China adalah mitra dagang utama Australia dan permintaan komoditasnya sangat berpengaruh. Perkembangan tersebut dapat memperkuat atau melemahkan sentimen pasar terhadap pasangan ini tergantung hasilnya.
Lonjakan ekspektasi inflasi Australia juga terkait dengan kenaikan harga minyak, yang pada akhirnya mempengaruhi daya beli dan aliran modal. Kondisi geopolitik regional dan dinamika harga energi menciptakan risiko tambahan bagi volatilitas pasangan mata uang ini, meskipun ada spekulasi deeskalasi konflik yang memberi beberapa dukungan terhadap mata uang berisiko.
Di tengah ketidakpastian global, pasar menantikan konfirmasi arah dari data ekonomi utama berikutnya dan komentar kebijakan. Laporan ini menekankan bahwa tanpa sinyal trading yang jelas, para pelaku pasar harus menjaga manajemen risiko dengan ukuran posisi yang sesuai dan rencana tetap fleksibel.