AUDUSD melemah seiring dolar AS menguat setelah beberapa hari penurunan. Dolar AS yang pulih menekan permintaan terhadap mata uang risiko, termasuk AUD. Pada saat penulisan, AUD/USD berada sekitar 0.7155 setelah sempat menyentuh level sekitar 0.7200, level yang terakhir terlihat pada Juni 2022. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk konteks pembaca.
Pair AUDUSD didorong turun karena USD rebound dari rendah intraday dan DXY beringsot di sekitar 98.20. Perkembangan geopolitik seputar konflik AS-Iran menjaga pasar tetap hati-hati meski ada upaya diplomatik yang mencoba menahan eskalasi. Para pelaku pasar menilai risiko inflasi tetap tinggi karena gangguan pasokan energi, sehingga prospek pemangkasan suku bunga Fed menambah ketidakpastian arah AUDUSD.
Harga minyak tetap berada pada level tinggi karena gangguan pasokan, meningkatkan tekanan inflasi dan menambah diskon terhadap keinginan pelaku pasar untuk pemangkasan cepat. Pernyataan pejabat bank sentral menegaskan fokus pada inflasi, membuat pelaku pasar menghindari lonjakan bertahap pada suku bunga AS. Ketidakpastian di pasar energi dan mata uang membuat pergerakan AUDUSD cenderung terbatas dalam beberapa sesi mendatang.
Harga minyak yang lebih tinggi terus mendongkrak risiko inflasi global dan mempengaruhi ekspektasi kebijakan moneter. Kondisi ini membuat pasar menghindari ekspektasi pemotongan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat. Sinyal-sinyal tersebut menjaga volatilitas AUDUSD karena pergeseran kebijakan antara AS dan Australia.
Investors melihat upaya diplomatik AS dan Iran yang berputar ke arah memorandum sementara untuk mencegah eskalasi lebih lanjut. Upaya tersebut menimbulkan volatilitas di pasar energi dan mata uang, meski beberapa pelaku pasar tetap berhati-hati terhadap prospek inflasi. Dengan minyak lebih tinggi, tekanan terhadap kebijakan moneter AS tetap relevan bagi AUDUSD.
Beberapa laporan menyebut bahwa pertemuan antara pejabat AS dan Iran bisa terjadi dalam beberapa hari ke depan, meski fokus pada status gencatan senjata dan hambatan di Selat Hormuz masih besar. Pasar memperhatikan gejolak energi karena potensi gangguan pasokan dapat memperpanjang tekanan inflasi global. Oleh karena itu, prospek pemangkasan suku bunga Fed tetap berada di skala yang lebih panjang, sementara AUD terpapar oleh pergerakan dolar.
Data tenaga kerja Australia menunjukkan dinamika yang cukup kuat meski tidak sepenuhnya memenuhi ekspektasi. Australia menambah sekitar 17.9 ribu pekerjaan pada Maret, sementara laju pengangguran tetap 4.3%. Hasil ini menjaga tekanan bagi RBA untuk mempertahankan sikap hawkish guna menyeimbangkan pertumbuhan dan inflasi.
RBA telah menegaskan kesiapan untuk mempertahankan kebijakan yang tegas jika sinyal tenaga kerja tetap kuat. Data kerja yang solid memberi dukungan bagi pandangan bahwa suku bunga bisa tetap tinggi lebih lama. Akibatnya, AUD tetap berada di bawah tekanan terhadap USD meski faktor global menguji arah kebijakan.
Secara keseluruhan, arah AUD terhadap USD akan bergantung pada bagaimana data tenaga kerja berikutnya dan dinamika harga minyak membentuk ekspektasi inflasi. Faktor-faktor geopolitik dan likuiditas pasar akan menjaga volatilitas pasangan ini dalam beberapa minggu ke depan. Pembaca disarankan memonitor perkembangan data AS dan keputusan RBA untuk gambaran lebih jelas.