Imbal hasil obligasi Australia meningkat menjadi pendorong utama bagi AUD. Bank sentral menunjukkan komitmen untuk menjaga kebijakan moneter tetap tegas jika diperlukan, yang mendorong permintaan terhadap mata uang negeri kanguru. Data pasar menunjukkan bahwa imbal hasil 3-tahun telah melonjak ke level tertinggi dalam beberapa bulan, menambah kepercayaan investor terhadap stabilitas fiskal dan kebijakan negara.
Kombinasi faktor domestik yang kuat, termasuk momentum pekerjaan yang resilient dan PMI yang solid, memperkuat ekspektasi bahwa Australia mungkin menjaga sikap hawkish meskipun tren disinflasi global berlanjut. Hal ini memperlebar selisih imbal hasil dengan USD, sehingga menarik investor keluar dari dolar menuju AUD.
Investors juga menantikan rilis data inflasi Australia berikutnya sebagai panduan utama bagi arah kebijakan RBA. Walau inflasi telah mereda dari puncaknya, tetap berada di atas target bank sentral, menciptakan ruang bagi kelanjutan kebijakan yang hati-hati namun tegas.
Pasangan AUD/USD diperdagangkan sekitar 0.6960 pada hari ini, meningkat sekitar 0.60 persen dan menyentuh level tertinggi sejak Februari 2023. Pergerakannya didorong oleh perbedaan imbal hasil yang mendukung AUD dibanding Dolar AS serta dorongan risiko global yang sedang membaik. Langkah ini mencerminkan reaksi pasar terhadap dinamika suku bunga domestik yang lebih menarik bagi investor jangka menengah.
Katalis utama adalah imbal hasil Australia yang lebih tinggi dan kinerja ekonomi domestik yang relatif kuat. Selain itu, USD melemah karena isu politik dan ketidakpastian kebijakan moneter, yang memperkuat daya tarik AUD sebagai alternatif utama bagi pengelolaan risiko mata uang. Pergerakan ini juga mengindikasikan aliran modal menuju aset berisiko lebih tinggi di tengah pelonggaran kebijakan yang sedang dipertimbangkan di negara maju.
Dalam konteks ini, pasar tenaga kerja AS yang melambat dan kemungkinan penundaan perubahan kebijakan Fed menambah tekanan pada dolar. Kebijakan pelonggaran di masa depan mungkin menggeser arus modal global, yang secara halus menguntungkan AUD jika imbal hasil Australia tetap di jalurnya.
Para pelaku pasar menantikan data inflasi Australia berikutnya untuk menilai arah kebijakan RBA. Meskipun tren disinflasi berlanjut, inflasi tetap berada di atas kisaran sasaran bank sentral sehingga sikap hawkish dapat dipertahankan dalam jangka pendek. Risiko kebijakan tetap menjadi fokus utama bagi investor yang ingin mengukur kestabilan makro Australia.
Faktor-faktor domestik yang kuat memberikan ruang bagi RBA untuk menjaga sikap kebijakan yang tegas dibandingkan bank sentral negara lain. Namun, adanya tekanan inflasi dan dinamika ekonomi global menuntut evaluasi berkala atas risiko terhadap pertumbuhan ekonomi serta stabilitas harga jangka menengah. Ketika data inflasi akhirnya menunjukkan tren jelas, arah kebijakan dapat bergeser secara bertahap.
Di sisi lain, dolar AS tetap tertekan oleh ketidakpastian politik dan pembahasan independensi Federal Reserve di masa depan. Dengan pasar tenaga kerja AS yang melambat, ekspektasi terhadap kebijakan Fed menjadi lebih terukur, menambah volatilitas lintas mata uang. Secara keseluruhan, AUDUSD berpotensi tetap didorong jika imbal hasil Australia tetap tinggi dan faktor domestik terus mendukung AUD.